MEMOX.CO.ID – Tiga tahun sudah tragedi Kanjuruhan Malang berlalu. Namun ingatan meninggalnya ratusan nyawa akibat tembakan gas air mata 1 Oktober 2022 lalu tetap menjadi duka mendalam. Ratusan nyawa melayang pada malam itu.
Terhitung, total sebanyak 135 nyawa melayang. Sehingga tragedi ini menjadi pertandingan sepak bola paling mematikan kedua dalam sejarah di dunia setelah Peru dengan total korban sebanyak 328 jiwa pada 24 Mei 1964 silam.
Rabu (1/10/2025) malam, ribuan jamaah memadati halaman stadion Kanjuruhan Malang. Mereka membaca doa hingga salawat bersama yang dipandu oleh Riyadul Jannah.
Selain di halaman Stadion Kanjuruhan, di gate 13 juga dipadati oleh keluarga korban. Di sana para suporter dan keluarga korban tragedi Kanjuruhan juga mengirim doa.
Salah satu keluarga korban Defi Atok Yulfitri (48), warga Desa Krebet Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang yang merupakan ayah dari dua putri tersayangnya yang turut menjadi korban meninggal pada peristiwa kelam itu mengatakan bahwa, dengan tiga tahun ini, pemerintah tetap membantu menuntaskan kasus Kanjuruhan.
“Apalagi dengan rencananya Presiden Prabowo Subianto mau reformasi kepolisian, itu bisa membantu menuntaskan kasus Kanjuruhan,” harapannya.
Selain di stadion Kanjuruhan, di Kota Malang juga diadakan doa bersama. Itu dilakukan oleh Arema FC. Namun puncaknya, dikatakan tetap di stadion Kanjuruhan Malang.
“Di kota juga ada, anak-anak supporter juga ada. Tadi saya mengikuti, terus sekarang puncaknya di sini (Stadion Malang),” pungkasnya. (nif/ume)






