MEMOX.CO.ID – Mitra Dapur SPPG Cukir 2 berkomitmen menjaga mutu program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menerapkan distribusi yang transparan dan sistematis.
Seluruh proses produksi hingga penyerahan makanan dilakukan secara disiplin merujuk pada Juknis pemerintah guna memenuhi standar nasional yang telah ditetapkan.
Nur Laila Al Andi, perwakilan yayasan Mitra Dapur SPPG Cukir 2, mengungkapkan bahwa layanan mereka menjangkau 2.188 penerima manfaat yang tersebar di 18 sekolah negeri dan swasta.
Ia juga memastikan bahwa seluruh menu yang disediakan telah mengacu pada standar kesehatan yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Selasa (23/04/2026).
“Menu hari ini berupa nasi putih, ayam koloke, mapu tofu, tumis kecambah, sawi serta wortel dan untuk buahnya kelengkeng. Total ada sebanyak 2.188 penerima manfaat dari 18 sekolah negeri maupun swasta,” ujar Nur Laila.
Mekanisme distribusi dilaksanakan secara sistematis melalui tahapan verifikasi yang terukur, bukan secara langsung. Setiap harinya, kedatangan logistik makanan di sekolah disertai dengan proses serah terima resmi yang dicatatkan dalam Berita Acara.
Pemeriksaan kualitas makanan dilakukan melalui Laporan Uji Organoleptik yang wajib disusun oleh PIC sekolah. Prosedur ini menjadi filter utama untuk menjamin bahwa makanan yang diterima siswa telah memenuhi standar yang ditetapkan.
“Sebelum menu disalurkan kepada penerima manfaat akan dibuka untuk dilakukan pengecekan oleh PIC MBG sekolah, pengecekan dilakukan menyangkut layak atau tidaknya menu tersebut.
Dari hasil pengecekan, mereka akan memberikan review rating 1 sampai 5 mencakup rasa, warna, aroma, dan tekstur dalam lembaran yang sudah disediakan oleh BGN,” ungkapnya.
SPPG Cukir 2 menerapkan standar kualitas yang tanpa kompromi dalam operasionalnya. Apabila ditemukan hidangan yang dianggap tidak layak atau menyimpang dari standar kesehatan, pihak pengelola akan langsung membatalkan pendistribusiannya (skip) demi keamanan siswa.
“Kalau misal ada kategori menu yang dinilai tidak layak, maka akan dilakukan skip atau tidak didistribusikan. Kalau memang ada menu yang tidak layak akan digantikan di menu hari berikutnya. Tentunya dengan melakukan pemberitahuan kepada penerima manfaat terlebih dahulu,” ucap Nur Laila.
Sebagai bentuk tanggung jawab, apabila terdapat komponen makanan seperti buah yang ditemukan rusak atau terlalu matang, pihak penyedia akan memberikan penggantian berupa porsi ganda pada hari berikutnya. Langkah ini diambil setelah melalui proses koordinasi dengan pihak sekolah terkait.
Guna mendukung akurasi evaluasi program, Nur Laila menekankan agar siswa mengonsumsi menu MBG di sekolah sesuai SOP BGN. Dengan demikian, sisa makanan yang ada dapat dianalisis untuk melihat sejauh mana penerimaan dan kecukupan gizi yang terserap.
“Sebab selain dari hasil review PIC, hasil makanan sisa yang kembali tersebut juga bisa menjadi evaluasi SPPG terkait menu. Supaya kita juga bisa memikirkan bagaimana menu tersebut bisa dikonsumsi dengan model lain, agar kebutuhan gizi benar-benar terpenuhi,” imbuhnya. (kel/fik)






