“Kami memperhatikan selalu ada program inovasi baru juga prestasi dari Banyuwangi. Kami sangat tertarik dan sempatkan datang langsung kesini untuk belajar banyak hal,” tutur Arsipan.
Sementara itu, Sekda Banyuwangi, Mujiono mengatakan, inovasi terus dilakukan Pemkab untuk perbaikan kinerja pemerintahan. Inovasi menjadi tools Banyuwangi untuk mempercepat penyelesaian masalah daerah hingga mempercepat capaian berbagai program pembangunan.
“Inovasi dilakukan di semua sektor mulai tata kelola pemerintahan dan birokrasi, pelayanan publik, pariwisata hingga penanganan kemiskinan,” ujar Sekda.
Salah satu inovasi yang konsisten dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi adalah lewat program bupati ngantor di desa (Bunga Desa). Secara berkala, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani tinggal di desa seharian, dari pagi sampai petang untuk mengurai berbagai urusan warga.
“Ini adalah cara Pemkab untuk menjemput bola berbagai urusan warga untuk menuntaskan urusan warga di desa itu. Ada urusan yang solusinya jangka pendek, bisa cepat. Ada yang perlu waktu seperti infrastruktur,” ujar Mujiono.
BInovasi juga dilakukan pada sektor pelayanan publik, di antaranya Banyuwangi menginisiasi Mal Pelayanan Publik yang melayani lebih dari 200 layanan dokumen kependudukan dan perijinan dalam satu atap. Ada juga Pasar Pelayanan Publik, dengan konsep yang sama, yang berlokasi di tengah pasar rakyat.
“Bahkan program Mal Pelayanan Publik Digital yang kami rintis, telah diadopsi pemerintah pusat untuk kemudahan pengurusan dokumen kependudukan warga,” kata Mujiono.
Banyuwangi juga getol menggerakkan sektor pariwisata untuk menggerakkan ekonomi warga. Berbagai event berbasis seni dan budaya daerah serta mengoptimalkan potensi daerah digelar sepanjang tahun yang dikemas dalam agenda wisata Banyuwangi Festival. (tut/mzm)






