Pekan PLUT KUMKM 2026 Dorong UMKM Bondowoso Naik Kelas dan Siap Ekspor

Pekan PLUT KUMKM 2026 Dorong UMKM Bondowoso Naik Kelas dan Siap Ekspor
Kepala Diskoperindag Bondowoso, Hergiar Yuli Pramanto, saat dikonfirmasi awak media dalam acara dialog hilirisasi kopi di Gedung PLUT KUMKM. (foto:arif/memox)

MEMOX.CO.ID Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat pemberdayaan pelaku usaha mikro dan ultra mikro melalui kegiatan Pekan PLUT KUMKM 2026. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenalkan fungsi Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Bondowoso yang kini mulai beroperasi mendekati fungsi idealnya sebagai pusat pendampingan dan pengembangan UMKM secara berkelanjutan, Sabtu (23/5/2026) malam.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Bondowoso, Hergiar Yuli Pramanto, Menyampaikan saat ini PLUT Bondowoso telah memiliki empat program inkubator usaha, yakni inkubator kuliner, inkubator kerajinan, inkubator akun bisnis, serta inkubator informasi digital.

“Ujungnya bagaimana usaha kecil kita bisa lebih berdaya. Ekspor jangan hanya dinikmati pelaku usaha besar, tetapi usaha mikro juga harus bisa ikut merasakan manfaatnya agar dampak ekonominya benar-benar sampai ke masyarakat kecil,” ujarnya.

Antusiasme peserta selama pelatihan enam hari dinilai sangat tinggi. Para pelaku UMKM bahkan berharap kegiatan serupa terus digelar dengan tema-tema yang lebih spesifik, terutama terkait ekspor, pengolahan kopi, dan strategi pemasaran digital.

Hergiar menjelaskan, PLUT Bondowoso kini telah memiliki dua konsultan tetap yang siap memberikan pendampingan setiap hari kerja. Pendampingan dilakukan mulai dari pengurusan legalitas usaha, proses produksi, pemasaran, hingga penguatan kemitraan.

“UMKM biasanya menghadapi persoalan legalitas, pembiayaan, produksi sampai pemasaran. Semua itu sekarang bisa didampingi langsung di PLUT,” katanya.

Selain penguatan UMKM, Pemkab Bondowoso juga mulai menyiapkan pengembangan sistem resi gudang untuk mendukung sektor pertanian dan perkebunan, khususnya kopi. Namun saat ini kondisi fisik gudang masih membutuhkan sejumlah perbaikan.

Menurutnya, pemerintah daerah tengah berupaya mengusulkan anggaran perbaikan agar bisa direalisasikan paling cepat pada tahun 2027. Beberapa kerusakan yang perlu dibenahi di antaranya bagian tembok dan fasilitas pendukung lainnya.

“Kalau gudang itu sudah berfungsi, petani bisa menyimpan hasil panennya dan mendapatkan resi gudang yang dapat digunakan untuk akses pendanaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, Bondowoso sebenarnya telah memiliki sejumlah peralatan pendukung pengolahan kopi, mulai dari alat pengolahan cherry menjadi green bean (Pulper), mesin roasting, hingga peralatan penyajian kopi. Ke depan fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan melalui PLUT untuk mendukung hilirisasi produk kopi lokal.

“Harapannya UMKM kita, terutama di sektor kopi dari hulu hingga hilir, bisa lebih berdaya dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” pungkasnya.(rif/syn)