MEMOX.CO.ID – Pertunjukan karapan sapi turut memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, Senin (17/8/2026). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya menghidupkan kembali tradisi karapan sapi yang telah lama vakum.
Ribuan warga memadati lokasi pertunjukan di Lapangan Kecamatan Wringin. Sebanyak 13 komunitas karapan sapi dari Desa Banyuwulu dan Desa Gubrih turut ambil bagian dengan membawa sepasang sapi jantan.
Camat Wringin, Misyono, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk menghidupkan kembali tradisi karapan sapi sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat setempat.
“Khususnya di Kecamatan Wringin ini, budaya karapan sapi adalah tradisi yang sangat menarik, utamanya dalam menghadapi musim tanam,” ujarnya.
Berbeda dengan perlombaan karapan sapi pada umumnya, kegiatan tersebut dikemas sebagai pertunjukan budaya dan hiburan masyarakat. Tidak ada hadiah yang diperebutkan dalam kegiatan tersebut.
Sapi-sapi peserta dihias dengan berbagai atribut berwarna-warni sebelum dipasangkan pada pangonong, yakni kayu melintang yang diletakkan di atas leher sepasang sapi untuk menyelaraskan gerak keduanya. Pangonong kemudian dihubungkan dengan kaleles, kereta kayu kecil tempat joki berdiri mengendalikan laju sapi.
Pertunjukan berlangsung di lintasan sekitar 80 meter dengan diiringi musik tradisional saronen. Atraksi tersebut menjadi perhatian warga yang menyaksikan langsung aksi para joki mengendalikan laju sapi.
Menurutnya, karapan sapi secara turun-temurun tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga berkaitan dengan tradisi masyarakat menjelang musim tanam. Tradisi tersebut pada masa lalu dilakukan sebagai bagian dari ritual menyambut musim hujan dan menggemburkan tanah sawah.
Selain pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga diharapkan memberikan dampak terhadap perekonomian warga. Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal turut berjualan di sekitar arena pertunjukan.
“Bagaimana pergerakan perekonomian, sampeyan bisa lihat hari ini banyak pelaku UMKM dan PKL berjualan,” katanya.
Misyono menegaskan, pemerintah kecamatan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan lintas sektor agar tradisi karapan sapi tetap lestari dan dapat dikembangkan sesuai kearifan lokal masyarakat Wringin.
Sementara itu, Kepala Desa Gubrih, Abdul Bari, mengatakan desanya mengikutsertakan lima pasang sapi dari komunitas lokal. Menurutnya, keikutsertaan warga merupakan bentuk semangat untuk membangkitkan kembali budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Ini memang budaya turun-temurun, jadi kegiatan ini bertujuan untuk menggairahkan desa lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, karapan sapi di wilayah tersebut memiliki ciri khas berupa iringan musik saronen serta tarian khusus ketika sapi diarak menuju arena pertunjukan.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk kembali mengenalkan dan melestarikan karapan sapi kepada generasi muda sekaligus memperkuat potensi budaya dan ekonomi masyarakat di Kecamatan Wringin.(rif/syn)
