BKKBN Tekankan Pentingnya Program Taman Sayang Anak untuk Dukung Perempuan Bekerja

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bapak Dr. Wihaji, menegaskan pentingnya program berbasis data untuk menjawab tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia. (FOTO: Memox/Crys)
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bapak Dr. Wihaji, menegaskan pentingnya program berbasis data untuk menjawab tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia. (FOTO: Memox/Crys)

Malang, MEMOX.CO.ID – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bapak Dr. Wihaji, menegaskan pentingnya program berbasis data untuk menjawab tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia. Data BKKBN menunjukkan bahwa sekitar 71.000 perempuan Indonesia memiliki keinginan untuk bekerja, namun masih ragu akibat berbagai faktor. Dan ini alasanya

Mengapa Perempuan Ragu untuk Bekerja?

Dalam diskusi, Dr. Wihaji mengungkap tiga faktor utama yang menjadi penghalang:

  1. Faktor Ekonomi – Kekhawatiran mengenai gaji, terutama bagi pekerja di sektor informal seperti pembantu rumah tangga.
  2. Perubahan Nilai Kebahagiaan – Ada pergeseran pandangan tentang kebahagiaan, di mana sebagian orang mungkin merasa lebih nyaman dengan kehidupan yang tidak melibatkan pekerjaan formal.
  3. Kekhawatiran Pengasuhan Anak – Banyak perempuan yang takut tidak ada yang mengasuh anak jika mereka memutuskan bekerja.

Solusi BKKBN: Program Taman Sayang Anak

Untuk menjawab tantangan ini, BKKBN meluncurkan Program Taman Sayang Anak, yang menyediakan Taman Penitipan Anak (TPA) berkualitas. Program ini dirancang agar:

  • Orang tua, terutama ibu, dapat bekerja dengan tenang karena anak mereka berada dalam pengasuhan yang aman.
  • Anak tetap mendapatkan pendidikan dan kasih sayang meskipun orang tuanya bekerja.
  • Kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan korporasi untuk memastikan fasilitas penitipan anak tersedia di tempat kerja.

Gerakan Orang Tua (Genting) dan Dukungan Gizi

Selain TPA, BKKBN juga menggalakkan Gerakan Orang Tua (Genting), yang melibatkan berbagai pihak untuk mendukung:

  • Pemenuhan gizi anak melalui kerja sama dengan korporasi, BUMN, dan swasta.
  • Akses air bersih dan sanitasi.
  • Pencegahan pernikahan dini.

Penyuluh keluarga juga berperan sebagai “orang tua asuh” untuk membantu keluarga yang belum terjangkau program pemerintah.

Komitmen Pemerintah Hadir untuk Keluarga

Dr. Wihaji menegaskan, “Pemerintah harus hadir untuk menjawab kekhawatiran keluarga, terutama perempuan yang ingin berkarya.” Dengan program seperti Taman Sayang Anak dan Genting, BKKBN berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung agar perempuan dapat bekerja tanpa mengorbankan hak anak untuk mendapatkan pengasuhan terbaik.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi perempuan di dunia kerja sekaligus memastikan kesejahteraan generasi mendatang. (Crs)