MEMOX.CO.ID – Atlet Binaraga Kabupaten Malang kembali terpaksa mengonsumsi ayam tiren alias bangkai ayam setelah sebelumnya sempat viral di media sosial. Kali ini mereka kembali makan bukan karena uang pembinaan belum cair, melainkan uang dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) itu sudah habis terpakai untuk pemenuhan gizi atlet.
“Porprov IX Jawa Timur (Jatim) 2025 kurang dari 44 hari lagi, namun kondisi keuangan atlet menuju Porprov, kembali membawa persoalan lagi. Karena asupan gizi atlet tidak bisa ditunda, sehingga mau tidak mau mereka terpaksa kembali makan ayam tiren,” kata Ketua Persatuan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PBFI) Kabupaten Malang Indra Khusnul, belum lama ini.
Dana pencairan tahap pertama dari Dispora untuk masing-masing atlet memang sudah turun. Namun, uang pembinaan itu diakui, hanya bisa bertahan satu Minggu. Sehingga atlet Binaraga kembali memakan ayam tiren lagi.
“Memang kami pernah diberikan bantuan ayam segar oleh Kepala Desa (Kades) di wilayah Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Tapi itupun hanya sekali,” jelasnya.
Meski makan daging ayam tiren di dalam hukum Islam haram, namun tidak ada pilihan lain untuk memehui gizi atletnya. Sebab, harga ayam tiren sangat murah dan terjangkau jika dibanding membeli daging ayam segar.
Karena, untuk mendukung pertumbuhan otot, meningkatkan performa, dan menjaga kesehatan, mereka perlu asupan protein, karbohidrat, dan lemak yang cukup. Seharusnya, untuk memenuhi asupan gizi atlet Binaraga, idealnya, kata Indra, memakan daging sapi. Tapi karena tidak ada biaya untuk membeli daging sapi, maka satu-satunya jalan kembali memakan ayam tiren.
“Dan para atlet Binaraga Kabupaten Malang paham jika ayam tiren haram di makan dan akan mengganggu kesehatan mereka, namun apa boleh buat,” ujarnya.
Selain asupan gizi, hal yang perlu diperhatikan juga asupan suplemen. Sedangkan untuk membeli suplemen per bungkus isi 10 tablet, harganya Rp4,8 juta per orang. Jika di kalikan 12 atlet yang akan terjun di Porprov Jatim nanti, totalnya mencapai Rp 57,6 juta. Dan hingga kini, belum ada bantuan dari Pemkab Malang kecuali dana Puslatkab di tahap pertama.
“Kalua kita hitung untuk keperluam atlet selama Puslatkab, kami harus merogok kocek Rp15 juta per bulan, termasuk juga membeli suplemen,” katanya.
“Atlet Binaraga memakan makanan haram maupun halal itu urusan kita dengan Tuhan. Kami bersama atlet disini berjuang untuk tanah kelahiran kami. Dan yang kami sayangkan kok tidak ada perhatian yang nyata dari pemerintah daerah,” pungkasnya. (nif/syn)






