Mahasiswa juga dapat berperan sebagai fasilitator dalam menciptakan lingkungan kampus yang mendukung gaya hidup sehat dan berkelanjutan. Mereka dapat menggalang dukungan dari pihak kampus, organisasi mahasiswa, dan komunitas lokal untuk menyediakan alternatif rekreasi yang menarik dan bermanfaat. Dengan mengedepankan nilai-nilai positif seperti kreativitas, kesenian, dan kegiatan sosial, mahasiswa dapat membentuk budaya kampus yang lebih inklusif dan berdaya saing tinggi. Dengan demikian, peran mahasiswa dalam mengubah budaya dugem di lingkungan kampus tidak hanya merupakan tanggung jawab moral, tetapi juga investasi dalam masa depan kampus yang lebih baik dan berkelanjutan. Bukan hanya itu saja, banyak cara untuk menciptakan lingkungan kampus yang terbebas dari budaya dugem dengan Mengadakan seminar, diskusi, atau kampanye pendidikan dapat membantu memperkuat pemahaman tentang pentingnya mengubah budaya ini.
Peran mahasiswa dalam mengubah budaya dugem di lingkungan kampus menjadi sangat penting. Karena mahasiswa memiliki potensi besar untuk memengaruhi pandangan dan perilaku rekan-rekan mereka serta merumuskan norma-norma baru yang lebih sehat dan berkelanjutan. Namun, transformasi ini tidak dapat terjadi secara individual diperlukan kerjasama antara mahasiswa, pihak kampus, dan masyarakat secara menyeluruh. Selain itu, dampak dari budaya dugem bukan hanya terbatas pada lingkungan kampus, tetapi juga merambah ke masyarakat sekitarnya. Berkembangnya tempat-tempat hiburan malam dan minat masyarakat, terutama kaum muda, terhadap dugem menandakan perlunya tindakan nyata untuk mengubah pandangan dan perilaku terkait. Pemerintah juga dapat mengeluarkan regulasi yang mengatur jam operasional tempat-tempat hiburan malam, termasuk club atau cafe yang menjadi tempat dugem. Pengawasan yang ketat terhadap izin usaha, peraturan keamanan, dan ketertiban umum di tempat-tempat tersebut dapat membantu mengurangi risiko terhadap keselamatan dan kesejahteraan mahasiswa. (*)






