Oleh: Aldefrid Eidinta Ruliff Augustevyo, Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Pertenakan, Universitas Muhammadiyah Malang
MEMOX.CO.ID – Jumlah permintaan produksi daging maupun telur pada unggas setiap harinya mengalami peningkatan. Hal tersebut diiringi dengan bertambahnya jumlah penduduk serta pendapatan yang mereka terima. Daging unggas yang baik memiliki ciri-ciri seperti, daging ayam yang bertekstur halus, lebih mudah untuk digiling maupun dikunyah, dan ketika disayat masih ada darah segar yang keluar dari serat-serat daging. Sedangkan telur yang berkualitas baik adalah telur yang memiliki ukuran normal, yaitu tidak terlalu kecil maupun tidak terlalu besar, serta warna cangkang terlurnya sesuai dengan jenis unggas tersebut.
Salah satu jenis unggas yang saat ini paling banyak diminati oleh masyarakat adalah daging maupun telur dari ayam kampung atau biasa disebut dengan ayam buras. Menurut pendapat dari Diwyanto (1998), daging ayam kampung dinilai memiliki rasa serta tekstur yang khas atau berbeda dengan daging ayam yang lain, sehingga banyak disukai masyarakat Indonesia dan bahkan daging ayam kampung memiliki segmen pasar tersendiri. Perbedaan telur ayam kampung dengan telur ayam negeri adalah pada ukuran serta warnanya. Telur ayam kampung mayoritas memiliki ukuran yang lebih kecil dan kulitnya lebih tipis dengan warna yang cenderung lebih kekuningan atau kecoklatan. Ayam kampung dinilai lebih sehat dikonsumsi jika dibandingkan dengan ayam broiler maupun jenis ayam yang lain.
Peternakan ayam kampung dinilai dapat memberikan pengasilan yang maksimal apabila diternakkan secara intensif, memberikan asupan pakan yang berkualitas cukup baik untuk proses pertumbuhan serta produksi. Selain itu, diperlukan juga adanya vaksinasi rutin untuk mencegah dari penyakit unggas yang tidak terkontrol.
Ada dua jenis peternakan pada ayam kampung, yaitu peternakan ekstensif dan peternakan intensif. Peternakan ekstensif adalah pemeliharaan ayam kampung dengan metode umbaran pada siang hari serta malam hari, sistem peternakan ini sering digunakan untuk cara pemeliharaan dengan memberikan pakan di sekitar area kandang umbaran dan diberikan sedikit di area kandang umbaran. Sedangkan peternakan intensif adalah pemeliharaan ayam kampung yang menggunakan teknologi baru yang cukup memudahkan peternak untuk memaksimalkan pertumbuhan serta kualitas produksi dari ayam kampung tersebut, cara ini dilakukan dengan meletakkan ayam kampung di dalam kandang tertutup yang mana untuk kebutuhan pakan dan minum unggas telah dibuat secara otomatis.
Masyarakat menilai jika peternakan ayam kampung dengan menggunakan metode ekstensif kurang maksimal dan perkembangannya sangat lambat. Mayoritas peternak ayam kampung mulai mengganti metode peternakan mereka menjadi cara intensif. Cara ini dinilai dapat memungkinkan ayam kampung lebih cepat tumbuh, sehingga bobot potong akan membutuhkan waktu yang lebih singkat jika dibandingkan dengan ayam kampung yang dipelihara secara ekstensif.
Salah satu hal penting yang menjadi sumber dari pertumbuhan ayam kampung adalah pakan. Pakan merupakan suatu komponen produksi yang paling besar. Pemberian pakan dengan kualitas yang jauh lebih baik akan memperlihatkan peningkatan kualitas serta produktivitas pertumbuhan ayam kampung. Seekor ayam kampung akan dapat tumbuh baik pada tingkat energi dan protein ransum yang lebih rendah dari pada tingkat energi dan protein ransum yang diberikan pada ayam ras. Oleh karena itu, pergantian pakan ayam kampung yang semula berupa pakan komersial, sebagian diubah dengan menggunakan bahan pakan lokal.
Hasil penelitian milik Erna dan Endang Wisnu yang melakukan penelitian pada kelompok peternakan Sido Makmur, Desa Muntuk Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul menunjukkan hasil bawa pakan komersial broiler yang diganti dengan pakan komersial ayam kampung dan jagung sangat berpengaruh terhadap bobot ayam kampung yang berumur sekitar sembilan minggu.
Selain ayam kampung, sektor peternakan yang hampir sejenis adalah ayam ras atau yang biasa disebut dengan ayam broiler. Ayam tersebut bisa juga disebut dengan ayam ras pedaging yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produksi daging ayam. Jenis ayam ini tidak menghasilkan telur seperti ayam kampung, ayam ini hanya bisa dipanen dagingnya saja. Ayam jenis ini lebih baik untuk pakannya adalah menggunakan dedak gandum atau biasa disebut dengan pollard. Dedak gandum berasal dari olahan gandum yang selanjutnya menjadi tepung terigu. Sehingga, pakan untuk jenis ayam broiler ini lebih halus dibandingkan dengan ayam petelur.
Untuk tahap awal pergantian pakan pada ayam petelur maupun ayam pedaging, tentu tidak akan langsung dikonsumsi habis oleh ayam tersebut, tetapi membutuhkan waktu beberapa hari kedepan agar pakan yang baru tersebut bisa dikonsumsi habis. Untuk mempercepat penghabisan pakan ayam, maka pemberian pakan dapat dilakukan setelah pakan yang sebelumnya habis, hal tersebut dimaksudkan agar pakan yang sebelumnya tidak akan mengendap dan menimbulkan bakteri ataupun jamur yang dapat menyebabkan penyakit.
Agar ternak tidak terlalu stres karena pakan yang diganti, maka sebaiknya pakan yang baru tetap diberikan pakan komersial tapi jumlahnya yang lebih sedikit. Apabila sudah terbiasa, maka pakan tersebut bisa digantikan sepenuhnya dengan pakan non komersial. Akan tetapi, sebaiknya untuk pakan non komersial tetap diberikan vitamin pendukung untuk mencegah dari paparan penyakit. Kebutuhan nutrisi ayam peternak maupun pedaging meliputi energi, protein, lemak, serat kasar, vitamin, mineral dan asam amino.
Pakan jenis non komersial mengandung banyak nutrisi yang lengkap dan bersifat alami, akan tetapi untuk jenis pakan yang digunakan akan lebih banyak macamnya dibandingkan dengan pakan komersial yang lebih praktis. Akan tetapi, pakan komersial hanya mengandung nutrisi yang masing-masing komposisinya hanya sedikit. Oleh karena itu, penggantian pakan komersial menjadi pakan non komersial sangat berdampak pada pertumbuhan hewan ternak tersebut. Kandungan nutrisi yang jauh lebih tinggi dan komposisinya yang lebih banyak dapat mempercepat proses pertumbuhan ternak. (*)






