Sebagai garda terdepan, Ropi dan kawan-kawan hanya mengandalkan insting untuk bertahan hidup. Selama menghadapi amukan api di savana Bromo.
Lajang 22 tahun ini menyebut, sesama relawan saling menguatkan, ketika berada di lokasi lahan terbakar.
“Ya capek, stamina terkuras habis, tapi ini panggilan jiwa bagi kami. Pokoknya pantang pulang sebelum padam,” ujarnya.
Kendati bukan orang Tengger asli, namun Ropi dan kawan-kawan sudah merasa memiliki alam. Hal itu pula yang membuatnya tetap semangat dan tabah sampai akhir. Menghadapi kebakaran lahan yang terjadi di Bromo.
Ia berpesan pada masyarakat, ketika kawasan itu sudah dibuka kembali aktivitas wisatanya, agar sama-sama menjaga dan melestarikan alam.
“Jangan dirusak lagi, kalau mau beraktivitas di kawasan konservasi dipikir dahulu apa akibatnya, jangan sampai tindakan konyol membuat alam rusak,” tandasnya.
Informasi yang dihimpun, kebakaran di Bromo akibat flare prewedding itu menghanguskan lahan seluas 504 hektar. Mulai dari Savana Watangan atau Bukit Teletubies, sampai ke kawasan Kabupaten Lumajang dan Pasuruan.
Proses pemadaman, dilakukan dengan cara berbeda. Baik dari jalur darat, maupun dari jalur udara. Jalur udara, dilakukan dengan mengerahkan helikopter Bell dan Super Puma milik BNPB. Biaya perjam pemadaman api menggunakan helikopter itu, berkisar antara Rp150 hingga Rp200 juta.






