Sehingga ia membuat edukasi dan membuat contoh yang mana untuk meningkatkan produktivitas tebu yang dari dulu rata-rata per hektarnya 70 Ton dengan mendongkrak 100 ton atau lebih.
“Kalau sudah diatas 100 ton, kita edukasi dengan Pupuk Indonesia Pupuk Kalimantan. Kita sudah mempunyai klaster di Blitar selatan bisa keluar 150 ton, 130 ton,” ujarnya.
Dijelaskan juga olehnya,Gapoktan Tebu telah melakukan study banding ke Negara Kuba. Pola tanam di sana seperti membuatkan danau di dalam tanah. Dimana mencekam air di dalam tanah itu setiap 1 kilo tanah bisa menyimpan 4 liter air.
“Itu cukup untuk perkembangan tebu. air yang kedua kita buatkan topsoil tanah itu kedalaman tanah yang subur. Kita tahu tebu mempunyai dua musim, kemarau dan hujan,” ulasnya.
PT Inti Rosan Makmur Sejahtera mengarah akan membuat skala tanam berkelanjutan. Yaitu pola tanam berkelanjutan dengan pola tanam 1 tanam 2 dan membuat satu sistem teknologi baru. Setiadi mengatakan bahwa kita nanti dalam proses membuat tata kelola tanaman tebu yang standar baku teknis yang benar.
Sehingga harga ini mengikuti harga gula standar baku, rendemen yang ada di air nira. Semakin manis, semakin tinggi untuk rendemen. Dengan Pupuk Non Subsidi, keuntungan petani menuju Protas (produksi dan kualitas) tebu yang standar teknis dan tebu yang standar teknis dan baku giling semakin besar.
“Itu yang kita cita-citakan menuju swasembada 2028, kita bekerjasama dengan petani pengrajin gula di wilayah 100 tadi. Kita petani kita ajak edukasi kita sama-sama untuk bergiling selama 12 bulan dan 24 jam,” ujarnya. (jaz/and/fik)






