Jember, Memo X – Dinas Peternakan (Disnak) Jember telah menemukan suspek ternak terserang penyakit mulut dan kuku (PMK). Temuan tersebut setelah petugas Disnak mendapatkan laporan dari warga peternak sapi. Dua orang petugas dari UPT Laboratorium Kesehatan Hewan Propinsi Jawa Timur kemudian diluncurkan untuk memeriksa dan mengambil sampel liur hewan ternak sapi yang dicurigai terjangkit PMK.
Kepala Dinas Peternakan Jember Andi Prastowo mengatakan hasil sampel yang telah didapat kemudian akan dikirimkan ke laboratorium kesehatan Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur yang berada di Malang.
“Kita telah mengambil sampel hasil ternak yang menjadi suspek PMK di dua lokasi yakni di Desa Curah Lele Kecamatan Balung dan Desa Purwoasri, Kecamatan Balung,”kata Andi Prastowo saat dikonfirmasi di kantornya.
Andi kemudian menjelaskan hewan ternak diperiksa memang menunjukan gejala terkena paparan virus PMK. Namun demikian pihaknya belum bisa memastikan jika ternak-ternak sapi tersebut terserang PMK. “Itu masih suspek, jadi kita belum bisa memastikan sebelum keluar hasil laboratoriumnya,”jelasnya.
Andi juga menyebutkan ada penyakit ternak yang gejalanya mirip dengan serangan virus PMK tersebut.
“Makanya kita belum bisa menyebut ternak tersebut terserang virus PMK sampai ada hasil pemeriksaan dari laboratorium karena ada jenis penyakit yang gejalannya mirip yaitu penyakit demam tiga hari, bovine epheremeral fever atau BEF,” kata Andi.
Andi juga mengaku heran penyakit ini kembali mewabah. Karena sejak tahun 1990 Indonesia sudah dinyatakan secara internasional sudah terbebas dari PMK. “Saya juga heran penyakit ini koq muncul lagi. Sejak saya kuliah kedokteran hewan sampai sekarang belum pernah melihat ternak yang terserang PMK dulu dari buku saja kita tahunya,”katanya.
“Nah setelah secara nasional pada tahun 1986 dinyatakan terbebas dari PMK dan pada tahun 1990 di akui secara internasional di tahun 2022 ini koq muncul lagi,” sambungnya.
- Rakerda Golkar Bondowoso, Resmikan Kader Baru
- Jelang Aksi Hari Buruh 1 Mei, Polresta Malang Kota Siagakan 500 Personal Gabungan
- Pemkab Bondowoso Sosialisasikan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Buruh Tani Tembakau 2026
- Jelang Hari Buruh Nasional, Polres Malang Rangkul Elemen Organisasi Kemasyarakatan untuk Jaga Kamtibmas
- Lawson Indonesia Gelar Cupping Coffee Kenalkan Kualitas Arabika Gayo di Kota Malang
Potensi penyebaran virus ini sangat cepat, Andi menyebutkan hingga 100 persen namun tingkat kematian ternaknya samgat rendah hanya 1 persen. Jika benar virus PMK yang menyerang ternak di dua lokasi pengumpulan sampel maka menurut Andi harus segera dibentuk Tim Satgas (satuan tugas) oleh Pemkab Jember.
“Ya harus segera dibentuk Tim Satgas yang melibatkan semua unsur termasuk TNI dan Polri. Kalau tidak dikontrol dengan tepat penyebarannya akan sangat cepat. Harus segera mengisolasi daerah lokasi yang terserang kemudian membatasi pergerakan pengiriman ternak baik yang keluar atau masuk ke wilayah Jember,”katanya.
Saat ini beberapa kabupaten kota disekitar Kabupaten Jember telah dilaporkan terserang PMK. Yakni Kabupaten Malang, Probolinggo dan kabupaten terdekat adalah Lumajang.
Andi juga mengaku saat ini pihak Dinas Peternakan Jember tidak memiliki vaksin untuk PMK. “Itu tadi kan penyakit ini sudah puluhan tahun tidak ada ternak yang terjangkit virus PMK sehingga kita tidak ada yang siap vaksinnya,”katanya.
Berdasarkan data yang dimiliki populasi ternak sapi di Kabupaten Jember saat ini kurang lebih ada 200 ribu ekor. Sedangkan untuk ternak kambing menurut Andi berkisar 2 kali lipat dari populasi ternak sapi.
Andi kemudian mengimbau agar para peternak tetap tenang.Jika ada ternak yang mereka yang mengalami gejala harus segera melaporkan ke petugas. “Resiko kematiannya kecil tapi tetap waspada karena penyebarannya cepat. Kalau ada ternaknya kena atau mengalami gejala segera melaporkan petugas, kemudian pisahkam dari ternak yang masih sehat biar tidak tertular.”
“Juga masih aman untuk masyarakat karena tidak bisa menular kepada manusia. Daging ternak yang terserang bisa dikonsumsi asal dimasak dengan tepat,” katanya.
Propinsi Jawa Timur, khususnya Kabupaten Jember sendiri dikenal sebagai salah satu sentra ternak baik sapi dan kambing. Hasil ternak dari Jember banyak yang dikirim ke kota lainnya seperti Jakarta.
Penyebaran PMK sendiri berpotensi berpengaruh pada perekonomian masyarakat, pendapatan peternak bisa menurun karena ternak mereka tidak laku di pasaran.(vin/red)






