“Saya beberapa waktu lalu mampir ya ke Gubugklakah, saya nongkrong saja sama warga, disuguhi kopi. Ternyata saya tanya, kopinya diambil dari perkebunan sendiri. Nah yang saya pikir, ini kekayaan kita yang patut dibanggakan,” terang Irawan.
Kata dia, kondisi di desa tersebut yang berada di kawasan lereng Gunung Bromo dan Semeru juga memiliki kekuatan cita rasa dan karakter tersendiri. Baik untuk kualitas tanaman kopi, maupun untuk daya tarik wisata dengan kopi sebagai salah satu pengungkitnya.
Selain di Desa Gubugklakah, desa lain yang cukup tersohor karena produksi kopinya adalah Desa Taji, Kecamatan Jabung. Berada di lereng Gunung Semeru dengan ketinggian mencapai 1.200 mdpl, membuat tanaman kopi yang tumbuh di desa ini cukup diminati.
“Saya pernah ngobrol dengan beberapa warga, bahkan kopi di Desa Taji ini yang tumbuh lebih bagus adalah jenis arabika daripada yang robusta. Inilah yang saya rasa perlu dioptimalkan,” jelas Irawan.
Selain produksi kopi di Desa Taji disebut juga telah memasok beberapa industri kopi. Bahkan juga disebut telah memasok kebutuhan industri kopi di Kabupaten Malang untuk diekspor. “Itu peluang, kita bisa terus mencarikan pasarnya. Baik di luar negeri untuk ekspor ataupun untuk pasar lokal di Indonesia. Petani kita kan banyak, mereka harus berdaya atas hasil pertaniannya. Bahkan di Desa Taji ini, produksinya mencapai 2 ton per hektarenya,” pungkasnya. (*/red/man)






