Indeks

Wakil Ketua DPRD: Pupuk Subsidi Tidak Langka, Hanya Petani Malas Daftarkan Sawahnya

Wakil Ketua DPRD Banyuwangi, Michael Edy Hariyanto.

Banyuwangi, Memox.co.id – Wakil Ketua DPRD Banyuwangi, Michael Edy Hariyanto menanggapi adanya isu kelangkaan pupuk dan mahalnya pupuk bersubsidi yang saat ini keluhkan petani.

Menurutnya, pupuk bersubsidi di Banyuwangi tidaklah langka, dan tidak mahal. Padahal pupuk bersubsidi itu ada, hanya petani yang malas mendaftarkan sawahnya. Sehingga pupuk bersubsidi tersebut terkesan langka.

“Akibat petani tidak mendaftarkan sawahnya, dan tidak terdaftar di elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Sehingga petani kesulitan mencari pupuk bersubsidi,” ujar Michael Edy Hariyanto.

Baca juga: Heboh, Jagal Ayam Potong Tewas Mengapung di Aliran Sungai

Michael menjelaskan, petani yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi adalah petani yang sudah tercatat di e-RDKK sesuai pengajuan yang diterima Kementan dari usulan pemerintah daerah.

“Pupuk bersubsidi tidak langka, karena petani malas mendaftar, sehingga petani tidak mendapat pupuk bersubsidi. Coba tanyakan kepada petani, apakah sawahnya sudah didaftarkan untuk memperoleh pupuk subsidi. Hampir semua petani tidak daftar,” ujarnya.

Menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Banyuwangi, masih banyak petani yang beranggapan bahwa mencari pupuk gampang. Padahal di aturannya, penerima pupuk subsidi petani harus daftar. “Seharusnya petani itu mengawal, e-RDKK saya apakah masuk atau tidak, lahan saya segini. Itu harus dikawal, dan petani berhak menuntut pupuk harus ada,” bebernya.

Anggota DPRD Banyuwangi dari fraksi Demokrat ini menjelaskan faktor lain yakni kurang aktifnya Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Hal ini dibuktikan banyaknya petani yang tidak mengerti proses pembelian pupuk subsidi.

“Saya sudah menegur Dinas Pertanian, katanya sudah masif melakukan sosialisasi. Tapi kenyataannya mengenai pupuk hingga pembelian pupuk, itu banyak petani yang tidak mengerti,” ujar Michael.

Bahkan lanjutnya, terkait permasalahan pupuk bersubsidi, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertanian, untuk penambahan jumlah PPL di Banyuwangi.

“Saya kemarin dari Kementerian Pertanian. Saya sudah membicarakan bahwa PPL kita di Banyuwangi itu sangat kurang dan beliau mengatakan bahwa ada perekrutan. Perekrutan ada sekitar 60 PPL untuk membantu pertanian,” jelasnya.

Selain itu, sambung Michael, pihaknya juga menanggapi adanya keluhan pupuk mahal. Dirinya mengakui jika pupuk subsidi tahun 2021 ini ada kenaikan. Berdasarkan Permentan Nomor 49 tahun 2021, dari harga pupuk urea yang biasa dijual Rp 1.800 kini menjadi Rp 2.250 perkilo, pupuk SP-36 dari Rp 2.000 menjadi 2.400, pupuk ZA dari Rp 1.400 jadi Rp 1.700, pupuk organik granul dari Rp 500 menjadi Rp 800.

“Memang ada kenaikan. Tetapi jauh lebih murah karena masuk subsidi pemerintah. Jika dibandingkan yang non subsidi jauh lebih mahal, masyarakat belinya sampai harga Rp 7.000,” pungkasnya. (ind/mzm)

Exit mobile version