Tiga Tahun Pimpin Bondowoso, Berikut Sederet Prestasi Bupati Salwa

25
0
Salah satu penghargaan yang diterima Bupati Drs. KH. Salwa Arifin. (sam)

Bondowoso, Memo.co.id – Bupati Bondowoso, Drs. KH. Salwa Arifin terus berupaya agar Bondowoso tidak lagi disebut sebagai Kota Pensiun. Berbagai terobosan dilakukan, agar potensi Kota penghasil kopi dan produsen tape itu bisa berubah menjadi kota yang layak diperhitungkan.

Jargon Bondowoso Melesat (Mandiri Ekonomi, Lestari, Sejahtera, Terdepan dalam bingkai iman dan takwa) sengaja dijadikan pemicu untuk membangun Bondowoso menjadi lebih baik.

Hasilnya, selama 3 tahun memimpin Bondowoso sejumlah penghargaan diraihnya. Antara lain, Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik 2019 dari Kemenpan & RB.

Penghargaan Kovablik 2019 Se-Jatim. Kemudian, Penghargaan Kabupaten Peduli Hak Asasi Manusia 2019 dari Kemenkumham, dan Penghargaan Mengentaskan Desa Tertinggal Berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pada 2020.

Sederet penghargaan yang diraih Kyai Salwa membuktikan santri juga bisa membangun jika diberi kesempatan. Karena Bupati Bondowoso ini alumni PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo.

Dikutip dari biografinya, karena ketekunan dan ketaatan pada gurunya, almarhum almaghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin, Kyai Salwa menjadi Ulama Kharismatik dan mendirikan Pondok Pesantren Mambaul Ulum di Tangsel Wetan Kecamatan Wonosari.

Walaupun secara geografis Bondowoso kurang strategis, tapi banyak mempunyai potensi alam. Yang jika dikembangkan, akan menjadikan Bondowoso bisa terkenal bukan hanya ditingkat regional dan nasional, tapi juga internasional.

“Kami bersama Wabup dan seluruh pimpinan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) bekerja keras dengan menggunakan jargon Melesat untuk menghilangkan stigma Bondowoso sebagai kota Pensiun,” kata Kyai Salwa pada Memo X.

Kyai Salwa bermimpi, Bondowoso melesat kemana-kemana, dengan mengembangkan seluruh potensi destinasi pariwisata yang tersebar diseluruh pelosok kota kecil ini dan kopi rakyat, sebagai penghasil kopi khas di dunia.

Tentu, lanjutnya, untuk mengembangkan Bondowoso kita tidak bisa berjalan sendirian. Harus membangun kerjasama dengan Kabupaten tetangga, Banyuwangi, Situbondo, dan Jember. (sam/mzm)