MEMOX.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Bondowoso menegaskan komitmennya membangkitkan kembali program Bondowoso Republik Kopi (BRK) Reborn melalui kegiatan petik kopi bersama di Petak 44A, RPH Kluncing, BKPH Sumberwringin, Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Rabu (8/7/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin langsung Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, bersama jajaran Forkopimda dan Forum Komunikasi Kecamatan. Selain melakukan petik kopi bersama petani, rombongan juga meninjau proses pengolahan kopi yang dikelola masyarakat setempat.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menegaskan kegiatan ini merupakan langkah awal untuk memperkuat implementasi program BRK Reborn sebagai salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Bondowoso.
“Bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penataan dunia perkopian,” ujarnya.
Menurutnya, Pemkab Bondowoso tidak akan berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi akan fokus melakukan penataan strategis sektor perkopian agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hamid mengungkapkan, pihaknya telah memperoleh tawaran fasilitasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyelenggarakan High Level Marketing kopi. Peluang tersebut dinilai menjadi momentum untuk memulai kembali kerangka strategis BRK secara lebih terintegrasi.
Ia juga mengakui aktivitas perkopian di Bondowoso selama ini sudah berjalan, namun masih berlangsung secara sporadis dan belum tersinergi dalam satu sistem yang utuh.
“Mungkin dengan bersinergi menjadi satu peta, satu pasar, dan satu konsep mulai dari hulu hingga hilir,” jelasnya.
Penataan tersebut, lanjutnya, akan difokuskan pada aspek pendanaan, pendampingan, standarisasi produk hingga pembukaan jalur distribusi agar pemasaran kopi Bondowoso semakin luas.
“Kontak dengan para buyer (pembeli) bisa kita lakukan secara sinergis, sehingga manfaatnya bisa kita rasakan bersama-sama,” imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso berharap penguatan BRK Reborn mampu mengembalikan kejayaan kopi Bondowoso sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha kopi.
Pelaku usaha kopi Bondowoso, Harsono, pemilik Kosabe Coffee, menyambut positif langkah yang dilakukan pemerintah daerah. Menurutnya, kehadiran pemerintah di tengah petani menjadi dorongan penting untuk membangkitkan kembali sektor perkopian daerah.
Dirinya, menilai kegiatan petik kopi bersama memberikan edukasi kepada petani agar menjaga kualitas hasil panen dengan hanya memetik buah kopi yang telah matang sempurna.
“Harapan masyarakat, dengan adanya petik kopi ini, kopi Bondowoso bisa bangkit lagi,” terangnya.
Harsono menjelaskan, kopi yang dipanen dalam kegiatan tersebut merupakan jenis robusta dengan produktivitas mencapai sekitar 4 ton ceri per hektare dan harga jual berkisar Rp13 ribu per kilogram. Kondisi itu dinilai masih menguntungkan karena biaya produksi robusta relatif lebih rendah dibandingkan kopi arabika.
Namun, berbeda dengan robusta, produktivitas kopi arabika saat ini mengalami penurunan signifikan. Meski harga ceri arabika masih berada di kisaran Rp22 ribu per kilogram, hasil panen di sejumlah lahan hanya mencapai sekitar 500 kilogram per hektare, jauh menurun dibandingkan kondisi normal yang mampu mencapai 4 ton per hektare.
Menurut Harsono, penurunan produksi tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang tidak menentu.
Ia berharap kebangkitan BRK juga diikuti dukungan nyata pemerintah, terutama dalam penyediaan akses permodalan dan modernisasi peralatan pengolahan kopi seperti mesin roasting dan huller agar kualitas kopi Bondowoso semakin kompetitif.
Sebelum kegiatan petik kopi berlangsung, sebanyak 141 petani kopi yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Kecamatan Sumberwringin menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) pemanfaatan lahan agroforestry kopi bersama KPH Perhutani Bondowoso.
“Karena memang faktor cuaca yang tidak menentu, kadang hujan dan kadang panas,” pungkasnya.
Kerja sama tersebut mencakup pemanfaatan lahan seluas 343 hektare. Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga menyerahkan bantuan sebanyak 133 unit cangkul kepada buruh tani yang tergabung dalam LMDH Wono Asri dan LMDH Wono Agung sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perkebunan.(rif/syn)






