MEMOX.CO.ID – Pesan pelestarian lingkungan disampaikan melalui musik dan karya seni di kawasan Bendungan Sampean Baru, Desa/Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (27/9/2026).
Kegiatan tersebut digelar Sarka Space bersama Tim Mimo Ecoton, BPBD, dan Nusantara Rhythm bertepatan dengan peringatan Hari Sungai se-Dunia. Kegiatan itu sekaligus menjadi kampanye Gerakan Tolak Plastik Sekali Pakai untuk mencegah pencemaran mikroplastik di perairan.
Penggagas Sarka Space, Ahmad Quraysi atau Uyes, menjelaskan Sape Upcycle dibuat dari sekitar 6 kilogram atau ribuan tutup botol plastik bekas. Bahan tersebut dikumpulkan melalui jaringan pengelolaan sampah, termasuk dari sekolah mulai tingkat TK hingga SMA serta bank sampah masyarakat.
“Upcycle sendiri adalah bagaimana kita mengubah sesuatu menjadi lebih bernilai. Kita mengubah bentuknya untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi,” ujarnya.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah peluncuran Sape Upcycle, alat musik tradisional khas Kalimantan yang dibuat dari limbah tutup botol plastik.
Menurutnya, proses pembuatan instrumen dimulai dari pencacahan, pencairan, hingga pengepresan tutup botol. Proses pengolahan material tersebut membutuhkan waktu sekitar satu hari, kemudian dilanjutkan tahap finishing selama kurang lebih satu minggu.
Sape Upcycle menggunakan warna merah, oranye, dan hitam. Selain memperkuat unsur estetika budaya Kalimantan, kombinasi warna tersebut membawa pesan mengenai kondisi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang sedang terjadi.
Instrumen tersebut belum dipasarkan secara massal. Namun, setelah lolos tahap kurasi kompetisi nasional CIMB Niaga, Sape Upcycle diproyeksikan memiliki nilai ekonomis sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per unit.
“Tahun ini kami punya mimpi besar berkolaborasi dengan musisi, sehingga kegiatan bermusik menjadi menarik sekaligus membawa isu lingkungan yang diangkat di sana,” tegasnya.
Pembuatan Sape Upcycle melibatkan kolaborasi Uyes yang memiliki fokus pada pengolahan limbah dengan Ali Gardy yang menangani aspek akustik dan audio.
Ali Gardy, musisi asal Kabupaten Situbondo, mengatakan instrumen tersebut menjadi salah satu cara menyampaikan pesan lingkungan melalui seni. Limbah tutup botol yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diolah menjadi instrumen musik yang dapat digunakan dalam pertunjukan.
“Kita bicara kebudayaan bukan lagi dengan cara menebang pohon di hutan (untuk huat alat musik. Red), melainkan memanfaatkannya dari sampah yang dibuang oleh masyarakat. Ini merupakan kampanye agar kita lebih peduli dan pandai memanfaatkan limbah plastik,” ungkapnya.
Dari sisi material, sekitar 90 persen bagian instrumen tersebut memanfaatkan limbah. Tantangan pada aspek akustik dan organologi bahan plastik diatasi dengan pemasangan perangkat penangkap getaran atau pickup.
Perangkat tersebut memungkinkan Sape Upcycle dihubungkan dengan sistem pengeras suara maupun berbagai efek audio.
“Sape ini bisa menghasilkan berbagai karakter suara, mulai dari string section hingga perkusi. Ini merupakan fenomena baru hasil silang pengetahuan antara pengolahan limbah dan musikalitas,” tambahnya.
Selain peluncuran instrumen, kegiatan tersebut juga diisi penampilan Nusantara Rhythm yang membawakan irama khas musik Batang Hari. Suasana pertunjukan yang intim menjadi bagian dari kampanye lingkungan yang disampaikan melalui pendekatan seni dan musik.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan temuan riset Ecoton terkait keberadaan mikroplastik di ekosistem perairan Bendungan Sampean Baru.
Rafika Aprilianti dari Ecoton menyebut hasil pengambilan sampel air di tiga titik menunjukkan adanya indikasi partikel mikroplastik jenis fragment, filament, dan fiber.
“Karakter mikroplastik berasal dari serpihan plastik sekali pakai, maka kita harus mulai berhenti menggunakan plastik sekali pakai agar sungai dan perairan terbebas dari mikroplastik,” kata Rafika.
Ecoton juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari delapan jenis plastik sekali pakai yang dinilai berpotensi menjadi sumber pencemaran, yakni tas plastik kresek, kemasan makanan dan minuman saset, wadah styrofoam, sedotan plastik, air minum dalam kemasan (AMDK) plastik sekali pakai, gelas kertas berlapisan plastik, mikrobeads dalam produk perawatan kulit, serta popok plastik dan pembalut wanita sekali pakai.
Melalui kegiatan tersebut, Sarka Space, Ecoton, BPBD, dan Nusantara Rhythm menggabungkan seni, musik, serta edukasi lingkungan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan ancaman mikroplastik di perairan.(rif/syn)
