MEMOX.CO.ID — Ribuan santri dan alumni dari puluhan pondok pesantren se-Kabupaten Bondowoso menggelar aksi damai dan doa bersama bertempat di Gerbong Maut, Alun-Alun RBA Kironggo, Kamis (16/10/2025).
Aksi ini merupakan respon moral atas tayangan program “XPose Uncensored” yang disiarkan oleh stasiun televisi nasional Trans7 pada 13 Oktober 2025, yang dinilai mencemarkan nama baik KH. Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, serta melecehkan marwah pesantren,
Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso, Ahmad Dhafir, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap insiden tersebut. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa tayangan tersebut tidak hanya melukai individu, tetapi juga nilai-nilai luhur pesantren yang selama ini menjadi pilar pendidikan dan moral bangsa.
“Kami mengecam keras tindakan ujaran kebencian yang ditayangkan di media nasional. Ini bukan hanya soal penghinaan terhadap tokoh agama, tetapi juga serangan terhadap kehormatan institusi pesantren. DPRD mendukung penuh upaya masyarakat menuntut keadilan,” tegas Ahmad Dhafir.
Pihaknya juga mendorong Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap stasiun televisi terkait dan menegakkan sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan. Selain itu, pihaknya berkomitmen untuk menyampaikan aspirasi masyarakat ke tingkat provinsi maupun pusat agar tidak terjadi pengulangan kasus serupa.
“Kami mendesak KPI untuk mengevaluasi izin siar stasiun televisi yang lalai dalam menjaga etika penyiaran. Ini penting demi menjaga ruang publik yang sehat dan beretika,” lanjutnya.
Ahmad Dhafir juga mengapresiasi sikap santun para peserta aksi yang menyampaikan aspirasi secara damai, tertib, dan bermartabat. Ia menegaskan bahwa DPRD Bondowoso akan selalu menjadi mitra rakyat dalam menjaga kehormatan ulama dan keluhuran pesantren.
Ia juga berharap stasiun televisi Trans7 memberikan klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka, serta melakukan evaluasi internal untuk mencegah terulangnya konten serupa yang dapat melukai umat dan merusak keharmonisan sosial.
“Kami berdiri bersama masyarakat. Ini adalah panggilan moral untuk membela kehormatan tokoh-tokoh agama yang selama ini menjadi penopang moral bangsa dan daerah kita,” pungkasnya.
Diketahui, aksi damai ini diikuti oleh perwakilan dari lebih 40 pondok pesantren besar se-Jawa Timur dan Madura, serta organisasi kepemudaan dan keagamaan seperti PMII, GP Ansor-Banser, IPNU-IPPNU, RMI PCNU, dan Pagar Nusa Bondowoso.
Kegiatan yang dilakukan meliputi: pernyataan sikap terbuka, doa bersama untuk keselamatan bangsa dan marwah pesantren, serta seruan kepada media nasional untuk lebih bijak dalam menayangkan konten yang menyangkut simbol keagamaan dan tokoh ulama.
Seluruh rangkaian aksi dilaksanakan dalam suasana damai, tertib, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan serta hukum yang berlaku. Para peserta mengenakan pakaian khas santri sebagai simbol identitas moral dan komitmen terhadap nilai-nilai keislaman.(rif/syn)






