Indeks

Podcast Ngalam Hebak Ajang Merawat Identitas Arek Malang

MEMOX.CO.ID – Kapolresta Malang Kota Kombes Pol. Danang Setiyo PS bersama Walikota Malang Wahyu Hidayat podcast Ngalam Hebak di Kedai Kopi Rumah 1879, kawasan Heritage Kauman, Kota Malang, Selasa malam (29/09/2026).

Pada kegiatan tersebut Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang mengajak sejumlah tokoh lintas sektor membahas masa depan bahasa khas Malangan.

Podcast bertajuk “Ngalam Hebak: Dari Osob Kiwalan Menuju Masa Depan Malang Raya” itu mempertemukan unsur kepolisian, pemerintah daerah, sejarawan, akademisi, dan pengamat keamanan.

Selain Kombes Pol. Danang, tampak hadir dalam kegiatan tersebut Prof. Hermawan Sulistyo selaku sejarawan dan Penasihat Ahli Kapolri, Dr. Ahmad Imron Rozuli dari Universitas Brawijaya, serta Bambang Rukminto dari ISSES. Diskusi dipandu Dr. Wadji, Ketua Umum PISHI.

Kegiatan tersebut digelar dua hari setelah deklarasi gerakan Ngalam Hebak—Malang Kabeh di Kampung Celaket, 27 September 2026.

Kombes Pol. Danang mengatakan, pembahasan osob kiwalan berangkat dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya penggunaan bahasa khas Malang di tengah perubahan sosial dan budaya.

Menurutnya, osob kiwalan tidak semata-mata berkaitan dengan teknik membalik susunan kata, namun menjadi bagian dari sejarah pergaulan dan solidaritas masyarakat Malang.

“Osob kiwalan bukan sekadar membalik kata. Di dalamnya ada sejarah dan solidaritas masyarakat Malang,” ujar Danang.

Karena itu, menurut dia, pelestarian tidak cukup dilakukan dengan mendokumentasikan kosakata. Diperlukan ruang agar bahasa tersebut tetap digunakan dan dipahami generasi muda.

Melalui podcast Ngalam Hebak, Danang ingin membuka ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif.

“Tujuannya bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi memastikan identitas itu tetap hidup, Setelah deklarasi hingga adanya Podcast ini, pekerjaan sebenarnya baru dimulai” ujar Danang.

Sementara Prof. Hermawan Sulistyo menilai penguatan identitas lokal dapat menjadi modal sosial, namun jangan sampai berubah menjadi eksklusivisme.

“Identitas budaya, menurutnya, harus menjadi sarana memperkuat kebersamaan, bukan menciptakan batas antara kelompok masyarakat.” ungkap Prof Herman.

Pandangan serupa disampaikan Dr. Imron selaku Akademisi Universitas Brawijaya tersebut mengatakan revitalisasi osob kiwalan perlu menyesuaikan perkembangan zaman, harus mendapat ruang baru agar generasi muda merasa memiliki.

Seperti yang sudah disampaikan diberita sebelumnya, bahwa Wali Kota Malang Wahyu selain mengapresiasi juga menyatakan pemerintah kota mendukung upaya memperkuat keberadaan osob kiwalan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.

Menurut Wahyu, tak hanya dalam bentuk dokumentasi dalam bentuk kamus dapat menjadi salah satu instrument yang berlanjut pada pemanfaatan dan pewarisan kepada generasi berikutnya.

“Hadirnya Podcast Jadi Ruang Kolaborasi menjadi bagian dari langkah lanjutan setelah deklarasi Ngalam Hebak (Malang Kabeh) untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas sekaligus membuka percakapan mengenai identitas Kota Malang.” Harap Wahyu.

Ia berharap pembahasan osob kiwalan tidak berhenti sebagai wacana komunitas. Menurutnya, keberlanjutan gerakan sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan budaya lokal dalam kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Bambang Rukminto melihat penguatan identitas dan solidaritas masyarakat memiliki keterkaitan dengan ketahanan sosial.

Menurutnya, masyarakat yang memiliki ikatan sosial dan identitas bersama dapat menjadi bagian dari kekuatan dalam menjaga lingkungan sosial, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pegiat seni atau pemerintah daerah.

Ngalam Hebak menjadi ruang untuk merawat identitas Arek Malang, sementara semangat kebersamaan menjadi pijakan agar Malang tetap menjadi ruang bersama bagi seluruh warganya. (fik/hms)

Exit mobile version