Opini  

Pentingnya Kesehatan Mental Remaja

Aishwara Indah Pramudita, Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang

MEMOX.CO.ID – Kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang mampu mencapai kesejahteraan dari dirinya dan mampu menyadari kemampuannya. Menjaga kesehatan mental merupakan aspek yang sangat penting bagi perkembangan kualitas hidup yang baik, terutama pada anak remaja tetapi zaman sekarang anak remaja mulai mengabaikan kesehatan mental dalam kehidupan sehari-harinya. Masa remaja merupakan masa perubahan antara anak-anak ke dewasa, pada masa ini remaja mengalami perubahan aspek fisik, kognitif, emosional dan psikologisnya jadi masih di fase labilnya. Pada masa remaja sangat mudah terpengaruh oleh beberapa faktor yang berdampak buruk pada perkembangnya seperti lingkungan, pertemanan dan keluarga. Banyak kasus yang terjadi dilingkungan sekitar dimana para remaja mulai terpengaruh oleh hal negatif yang menyebabkan remaja tersebut melakukan perbuatan yang menyimpang.

Menjaga kesehatan mental sangatlah penting, kata sehat bukan hanya sekedar terhindar dari segala penyakit yang pada umumnya menyerang manusia tetapi kesehatan mencakup seluruh kondisi seperti kondisi mental, fisik, sosial yang dimiliki manusia. Kondisi mental setiap orang berbeda-beda, ada seseorang yang menyikapi masalahnya dengan baik dan tenang namun ada juga dengan rasa takut, frustasi dan emosi. Banyak orang yang hanya mengutamakan kesehatan fisik dibandingkan kesehatan mental. Namun, kesehatan mental juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik. Ketika seorang mengalami stres karena masalah yang di hadapinya dan tidak dapat menemukan jalan keluar dari masalah tersebut, maka mudah terserang penyakit karena pikirannya kacau dan tidak tenang. Kesehatan mental yang baik merupakan kondisi seseorang yang merasa hatinya tenang, tentram, dan sebaliknya jika kesehatan mental seseorang terganggu hatinya akan cemas, takut dan akhirnya ingin melakukan ke perilaku negatif. Tuntutan atau tekanan hidup yang berlebih juga dapat mempengaruhi gangguan kesehatan mental seseorang. Pada zaman sekarang banyak anak remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental dan mengatasinya dengan menyakiti dirinya sendiri contohnya dengan melakukan bunuh diri, menggores tangannya dengan cutter, menggambar atau menulis sesuatu di beberapa bagian tubuh, membenturkan kepala atau bagian tubuh yang lain ke tembok.  

Berikut ini contoh gangguan atau penyakit dari kesehatan mental yang sering terjadi di Indonesia yang pertama, depresi adalah gangguan pikiran dan suasana hati yang menyebabkan kesusahan dalam menghadapi masalah apapun sehingga seorang merasa sangat sedih dan dapat berlangsung selama seminggu, sebulan atau lebih. Depresi tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, namun juga pada kesehatan fisik karena seseorang yang mengalami depresi akan malas melakukan aktivitas tanpa memperhatikan di sekitarnya seperti tidak ingin makan karena kehilangan nafsu makan, kurang tidur. Kedua, skizofrenia adalah suatu kondisi seorang mengalami halusinasi dan pikiran yang sulit dikendalikan dengan baik. Penyakit ini menyebabkan suatu kenyataan menyimpang dari pikiran seseorang sehingga seringkali menimbulkan emosi. Menurut WHO, lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia mengidap penyakit skizofrenia yang berisiko kematian tinggi akibat stres yang menyebabkan mereka sangat menderita. Gejala kondisi ini yaitu mudah tersinggung, kurang konsentrasi, pola pikir kacau, dan sering menyendiri.

Ketiga, insomnia adalah salah satu kondisi yang menyebabkan sulit tidur. Hal ini disebabkan karena terlalu khawatir atau cemas terhadap suatu hal sehingga membuat mereka merasa tidak nyaman. Rasa cemas yang dimiliki akibat dari masalah yang sulit dihadapi atau ketakutan yang dimiliki akan terjadi. Banyak masyarakat yang mengatasi insomnia dengan minum obat tidur. Keempat bipolar merupakan gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim, seorang penderita bipolar ini merasa senang kemudian berubah menjadi sedih. Setiap orang pada umumnya mengalami suasana hati senang dan sedih. Tetapi seseorang yang mengalami gangguan bipolar saat suasana hatinya senang maka merasa sangat antusias, bersemangat dan pada saat suasana hatinya sedih seorang itu bisa mengalami depresi. Ada juga beberapa gejala gangguan kesehatan mental yaitu sedih, ketakutan berlebihan, perubahan suasana hati, tidak mampu dalam menghadapi masalah, emosi yang berlebih, putus asa, kecanduan alkohol atau narkoba berlebihan, halusinasi, hilangnya kemampuan berkonsentrasi.

Pada tahun 2018 tingkat penderita gangguan mental yang ditandai dengan gejala depresi dan kecemasan rata-rata pada usia 15 tahun ke atas sekitar 6,1% dari total penduduk Indonesia setara dengan 11 juta orang. Remaja umur 15-24 tahun menunjukkan bahwa angka depresi sebesar 6,2%. Depresi berat akan menimbulkan kecendurangan menyakiti diri sendiri (self harm). Sekitar 80-90% kasus bunuh diri disebabkan oleh depresi dan kecemasan.  Kasus bunuh diri di Indonesia sudah mencapai 10.000 atau setara dengan setiap satu jam terdapat kasus bunuh diri. Menurut ahli suciodologist 4,2% siswa di Indonesia pernah berpikir bunuh diri. Pada kalangan mahasiswa sebesar 6,9% mempunyai niatan untuk bunuh diri sedangkan 3% lain pernah melakukan percobaan bunuh diri (Rachmawati, 2020). Depresi pada remaja bisa diakibatkan oleh beberapa hal seperti tekanan dalam bidang akademik, bullying, permasalahan keluarga, permasalahan ekonomi.

Pencegahan gangguan kesehatan mental ini dapat dilakukan tergantung individu masing-masing dengan melakukan kegiatan yang disukainya seperti olahraga, melukis, refreshing, mendekatkan diri pada hal keagamaan, dan bercerita kepada orang terdekat. Keberanian untuk terbuka atau bercerita kepada orang lain dan berobat ke psikologi merupakan salah satu langkah menuju arah yang benar. Pada era digital saat ini, banyak sekali platform yang menawarkan konsultasi online secara gratis dan selain itu juga ada beberapa pusat kesehatan masyarakat yang menawarkan konseling psikologis secara gratis dan ada juga dengan harga yang terjangkau (Rachmawati, 2020). Namun, pemahaman tentang kesehatan mental di Indonesia saat ini cukup rendah. Penderita gangguan kesehatan mental masih belum juga mendapatkan pengobatan yang tepat, karena jika ada salah satu anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan mental sering dianggap memalukan dan diremehkan. Selain itu juga kurang paham tanda-tanda gejala gangguan kesehatan mental banyak orang yang menganggap gejala itu adalah suatu hal yang biasa. Hal ini menyebabkan orang yang mengalami gangguan kesehatan mental susah terbuka pada orang di sekitarnya dan malah merasa lebih tertekan. Hendaknya lebih terbuka dan peka gangguan kesehatan mental disekitarnya. Padahal orang disekitar bisa menjadi pendengar dan obat bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental untuk meringankan bebannya. (*)

Email: aishwaraindahhh@gmail.com