Batu, Memox.co.id – Tumpukan kayu pinus berselimut debu tertata di depan rumah Tholib (55). Warga Dusun Ngandat, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu, itu hanya pasrah lantaran penghasilan mandek terdampak pandemi virus korona.
Tholib terakhir kali memproduksi kerajinan dari kayu pada Februari lalu. Tepat saat Maret, ketika virus korona dinyatakan masuk ke Indonesia, ia berhenti total memproduksi.
“Maret sampai sekarang tidak ada pesanan (souvenir) sama sekali. Yang sudah sempat pesan semua dibatalkan,” kata Tholib di rumahnya.
Tholib hanya satu dari puluhan perajin kayu di Dusun Ngandat. Wilayah tersebut menjadi penghasil kerajinan kayu sejak puluhan tahun lalu.
Tholib tak pernah lagi menyentuh kerajinan yang menjadi penopang perekonomiannya dari rumah produksi kerajinannya. Pendapatan Tholib langsung putus akibat pandemi Covid-19.
Sebelum Covid-19 datang, ia menceritakan, bisa mendapat Rp 10 juta dari pemesanan satu hingga dua kodi kerajinan. Pemesan berasal dari sejumlah negara di luar negeri, Bali, Jakarta dan sebagian Yogyakarta. Selain kerajinan kayu berupa alat pijat, mainan, ia juga menjual beragam peralatan dapur, seperti telenan, sendok kayu dan lainya.
Akibat Covid-19, ia juga terpaksa merumahkan lima pakerja. Ia tak tahu sampai kapan kembali memproduksi kerajinan dan mempekerjakan lima pekerjanya. Di sisi lain, belum ada sepeserpun bantuan ia dapatkan dari pemerintah akibat dampak Covid-19.
“Ini melihara ayam kampung. Kalau ada bantuan ya bersyukur, kalau tidak ya sudah,” kata lelaki yang sejak 1980 an menekuni produksi kerajinan ini.
Tetangga Tholib, Edi juga dalam kondisi serupa. Ia bersama ayahnya berhenti produksi patung kayu akibat pandemi Covid-19. Beberapa patung yang sudah dipahat pun tidak dilanjutkan.
“Sudah tidak ada pesanan lagi, jadi tidak produksi patung lagi,” kata Edi di halaman rumahnya.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Batu, Eko Suhartono mengatakan tak ada anggaran untuk bantuan pelaku UMKM kerajinan. Meskipun, ia mengklaim sudah mengajukan anggaran untuk bantuan.
“Ada 23 ribu sektor usaha yang kami usulkan dapat bantuan. Tapi, kami belum mendapat data dari dinas yang (bertugas) menyalurkan bantuan,” katanya.
Ia mengatakan, sebagian pelaku UMKM kerajinan dan fesyen berinovasi agar bisa bertahan saat pandemi Covid-19. “Kami sarannya perajin ini alih profesi, bertani atau bikin mebel,” ucapnya. (jun)






