MEMOX.CO.ID – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Pabrik Gula (PG) Tjoekir menunjukkan kinerja positif pada musim giling 2026. Pabrik ini mampu mengolah sekitar 520 ribu ton (5,2 juta kuintal) tebu dan menghasilkan hampir 40 ribu ton gula.
Angka tersebut sukses melampaui target awal sebesar 37 ribu ton. Secara keseluruhan, musim giling 2026 menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun sebelumnya, berkat sinergi yang solid antara manajemen pabrik, para petani, dan seluruh pemangku kepentingan.
Hal ini disampaikan General Manager (GM) PG Tjoekir, Abdul Aziz Purmali, ketika diwawancarai, Rabu (4/11/2026).
“Alhamdulillah, musim giling 2026 ini luar biasa. Dibandingkan musim giling sebelumnya, peningkatannya sangat signifikan. Tahun ini hampir seluruh capaian mengalami peningkatan, termasuk peningkatan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa total tebu yang diolah selama musim giling 2026 menyentuh angka 5,2 juta kuintal. Dari pengolahan tersebut, dihasilkan hampir 40 ribu ton gula, yang sukses melampaui target awal sebesar 37 ribu ton.
Dengan capaian gemilang di tahun ini, hal tersebut dapat menjadi energi positif dalam menghadapi musim giling 2027. Komitmen untuk terus merawat kinerja, memperkuat sinergi dengan petani tebu, serta menaikkan standar produktivitas dan kualitas bahan baku akan terus menjadi prioritas utama.
“Harapan kami, pada musim giling 2027 nanti capaian tahun ini bisa dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Kami ingin kerja sama dengan petani semakin baik, produktivitas tebu meningkat, dan proses penggilingan berjalan lebih optimal. Dengan begitu, target produksi dapat tercapai dan kesejahteraan petani juga semakin meningkat,” harapnya.
Apresiasi turut datang dari Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR), Imron Rosadi, atas capaian apik manajemen PG Tjoekir pada musim giling 2026. Ia menaruh harapan besar agar keberhasilan gemilang ini dapat terus dipertahankan pada musim giling mendatang.
“Komunikasi dan pendekatan yang dibangun oleh pimpinan sudah berjalan dengan baik. Cara kerja, proses pengelolaan, serta pendekatan kepada petani selama ini sangat baik sehingga berbagai gejolak bisa diminimalkan. Mudah-mudahan pada tahun 2027 nanti keberhasilan ini bisa kembali terulang,” ungkapnya.
Imron menambahkan, tercapainya kebutuhan bahan baku pabrik tidak lepas dari penerapan teknik budidaya yang konsisten oleh para petani sejak masa tanam hingga panen.
Menurutnya, perhatian khusus pada pengolahan lahan, mutu penanaman, serta ketepatan waktu tebang sangat krusial untuk memastikan tebu yang dikirim ke pabrik memenuhi standar kualitas tinggi.
“Untuk masa tanam sampai panen biasanya sekitar 11 bulan. Namun, untuk bibit yang ditanam pada masa awal, dalam waktu sekitar delapan bulan sudah bisa dipanen, tentunya dengan memperhatikan kondisi dan kematangan tebunya, sehingga bisa menghasilkan gula bagus dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan,” pungkasnya. (kel/fik)
