Pertama, pelaku kehumasan harus bisa mengajak semua pihak memiliki perspektif jangan panjang, yakni visi Indonesia Maju. Sehingga masyarakat tidak terjebak dalam keriuhan noise menjelang Pilpres 2024. Kedua, mengingatkan kembali kiblat-kiblat nilai bangsa, seperti nasionalisme, serta mengharai perbedaan dan kemanusiaan. Ketiga, menggaungkan capaian kerja pemerintah dan pembangunan. Keempat, mengingatkan kembali tantangan eksternal yang sedang dan akan dihadapi Indonesia sehingga membutuhkan estafet kepemimpinan.
“Sampaikan pesan itu dengan simpatik tidak defensif. Ingat ruang publik resah jadi penyampaian yang simpatik sangat diperlukan,” tandasnya.
Pada kesempatan itu, Moeldoko juga berpesan agar pelaku kehumasan yang berlatar belakang ASN tetap menjaga netralitasnya meski memiliki preferensi politik. Sikap netral tersebut diwujudkan dengan tidak membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan publik.
“Saya paham anda sebagai pribadi punya preferensi politik, punya calon favorit. Biarkan itu tersimpan sampai di bilik suara nanti. Tapi dalam melayani publik anda wajib imparsial,” pungkas Moeldoko. (*/red)






