Giat Kemanusiaan Yayasan Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara Malang di NTT
MEMOX.CO.ID – Yayasan Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara mendampingi anak-anak penyintas bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (04/10/26).
Anak anak ini adalah korban gempa bumi yang terjadi pada tanggal 15 Agustus 2026 lalu, berkekuatan Mw 7.8 mengguncang wilayah lepas pantai Pulau Flores di NTT.
Selama dua pekan relawan Sanggar Dongeng Kepompong mendampingi psikologi 250 anak yang tersebar di dua titik yakni di Dusun Nunang, Desa Salama, dan Dusun Motor Pecah, Desa Wangkung Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai
Kabupaten Manggarai adalah kabupaten yang berada di pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).Anak-anak penyintas bencana gempa NTT terhibur saat tim Sanggar Dongeng Kepompong menghibur dengan mendongeng.
Dongeng turut menyampaikan pesan moral dan motivasi untuk menjaga kebersamaan dan tak ada lagi perundungan. “Anak-anak senang dan terhibur. Apalagi saat boneka monyet turut hadir saat mendongeng,” kata Ketua Yayasan Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara, Yudi Priyanto.
Tim Sanggar Dongeng Kepompong mendampingi anak-anak yang tinggal di tenda pengungsian di Zona Anak.
Serta memberikan dukungan psikologi di para siswa di SDN 2 Reo, MIN 2 Reok, TK/RA Nurul Huda Reo, TK/PAUD Annurinamasa, Rumah Tahfidz An Najwa, Pondok Pesantren Pancasila Reo, MIN 1 Reok.
Selian mendongeng, tim relawan juga mengajak bermain bersama, mewarnai, menggambar, bermain bola, mencari ikan bersama, mandi dan memancing ikan bersama di sungai.
Para siswa juga dilatih dan waspada saat bencana gempa. Mengajak siswa jika terjadi bencana di sekolah untuk mengikuti jalur evakuasi di area pengungsian yang aman.
Tim relawan menyalurkan bantuan dari donatur berupa tas, buku tulis, buku gambar, pensil, penghapus, penggaris, bolpoin, dan rautan. Serta kotak bekal makan, garpu, sendokm dan botol minuman.
“Sangat menarik dan senang. Bonekanya nakal, menyanyi salah-salah terus,” kata salah seorang siswa bernama Fitri.
Tim juga menyalurkan air bersih untuk masyarakat. Total sebanyak 80 ribu liter air bersih didistribusikan kepada para penyintas. Beberapa wilayah masih kesulitan mendapatkan air bersih.
Mereka harus berjalan kaki di perbukitan untuk mendapat air dari sumber di pegunungan.
Apalagi saat musim kemarau, mereka terpaksa membeli dari penjual air keliling. Setiap 1000 liter harus ditebus seharga Rp 250 ribu.
Air sebanyak itu hanya untuk tiga sampai empat hari. Sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan air bersih. “Beberapa daerah di NTT saat kemarau mengalami krisis air,” kata Yudi. (fik/*)
