Mahasiswa KKN FP UB Malang Bawa Tiga Inisiatif Besar untuk Masyarakat Desa Pucangsongo

MEMOX.CO.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang hadir di Desa Pucangsongo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Rabu (30/7/25)

Program KKN yang dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga 31 Juli 2025, membawa tiga inisiatif besar yakni pembangunan RUBUHA (Rumah Burung Hantu), Bank Sampah Minyak Jelantah, dan Edukasi Cita-Cita & AI untuk Siswa SD.

Kegiatan KKN ini membuktikan bahwa kolaborasi antara masyarakat dan mahasiswa mampu membawa solusi nyata bagi tantangan desa.

Salah satu tantangan utama petani setempat adalah serangan hama tikus yang merusak hasil panen. Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa memperkenalkan RUBUHA.

Sebuah rumah buatan bagi burung hantu yang berfungsi sebagai predator alami tikus. Inovasi ini tidak hanya menekan populasi hama tanpa racun, tetapi juga memperkuat harmoni antara manusia dan alam.

Pendekatan ekologis ini didukung penuh oleh kelompok tani, pemerintah desa, serta Balai Penyuluhan Pertanian, dengan harapan dapat terintegrasi dalam sistem pertanian berkelanjutan desa.

RUBUHA sekaligus mendukung berbagai poin Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk SDG 3 (kehidupan sehat), SDG 12 (konsumsi dan produksi bertanggung jawab), serta SDG 15 (ekosistem daratan).

Tak hanya menjaga sawah, mahasiswa FP UB juga turut menjaga lingkungan rumah tangga melalui program Bank Sampah Minyak Jelantah.

Inisiatif ini mengajak lebih dari 550 rumah tangga untuk menabung minyak jelantah bekas dan menukarnya dengan minyak goreng baru.

Sementara itu, di SDN Pucangsongo 1, mahasiswa KKN menggelar rangkaian edukasi bertajuk “Menanam Mimpi dan Merawat Bumi”.

Melalui kelas interaktif seputar cita-cita, profesi, pertanian, dan edukasi lingkungan, siswa diajak untuk mengenal dunia luas dengan cara menyenangkan dan membumi.

Tak ketinggalan, pelatihan dasar kecerdasan buatan (AI) dan coding untuk guru memperkenalkan teknologi ke ruang kelas. Mahasiswa juga mendesain ulang ruang IT dan perpustakaan sekolah sebagai bentuk kontribusi berkelanjutan untuk masa depan pendidikan desa.

Ketiga program ini mencerminkan semangat Pancasila dan pembangunan berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang partisipatif, kolaboratif, dan kontekstual, mahasiswa FP UB membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari desa dari sawah, dari dapur, dan dari ruang kelas.

Apa yang mereka tanam hari ini bukan sekadar program, tapi benih harapan bagi Pucangsongo yang lebih sehat, cerdas, dan berkelanjutan.(*)