Bondowoso, Memox.co.id – Akhir-akhir ini, Bupati Bondowoso, Drs. KH. Salwa Arifin kerap membuat kebijakan yang kontroversial. Akibatnya, menambah musuh politik dalam menjalankan birokrasi. Setidaknya ada 3 kebijakan yang menjadi sorotan publik dan mitra kerjanya, DPR. Kyai Salwa, sapaan Bupati Bondowoso, lebih memperhatikan ‘bisikan’ orang dekatnya, ketimbang menjalankan keputusan legislatif dalam mengambil keputusan. Hal ini disampaikan Erfan Lelor, Ketua LSM Lasbira.
Dikatakannya, keputusan strategis Kyai Salwa yang menambah musuh politik. Belum lagi keputusan lain, yang efeknya juga sama, menambah musuh politik. Dalam menempatkan Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hasil open bidding juga sama. Kompromi politik yang sudah disepakati, diduga dimentahkan oleh orang terdekatnya.
Dan yang tidak kalah viralnya, pencopotan pejuang utama SABAR (Salwa-Bahtiar), KH. Imam Thohir sebagai Ketua DRD (Dewan Research Daerah) yang tereliminasi dalam Struktur TP2D (Tim Percepatan Pembangunan Daerah), gantinya DRD.
“Dalam menjalankan birokrasi, tidak lepas dari kondisi politik. Kalau politik stabil, staf Bupati dan warga akan tenang. Tapi kalau terjadi sebaliknya, akan menimbulkan kegaduhan, seperti yang terjadi saat ini,” kata Erfan.
Menurutnya, Bupati telah menciptakan musuh dalam lingkarannya sendiri dan ekternal. Masak sekelas DRD yang berjuang mati-matian membela SABAR, ‘dibuang’ begitu saja, logika politik yang dipakai. Bahkan, lanjutnya, komunikasi politik antara PPP dan PDIP tidak seharmonis saat kampanye untuk menduduki kursi P1 dan P2.
“Saya sebagai aktivis mengamati, kedua pentolan Parpol pengusung ini berjalan sendiri-sendiri. Saya sarankan kepada Bupati, dalam sisa kepemimpinannya merangkul orang-orangya kembali. Karena mereka sangat berjasa kepada Kyai dalam Pilbup. Bukan para pembisiknya itu yang berjasa,” tandasnya. (sam/mzm)






