Harga Jagung Ugal-ugalan, 7.411 Ton Disalurlan pada Peternak Ayam di Kabupaten Malang

Harga Jagung Ugal-ugalan, 7.411 Ton Disalurlan pada Peternak Ayam di Kabupaten Malang
Salah satu peternak ayam petelur di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. (foto:dok nif)

MEMOX.CO.ID –Dinas Peternakan dan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang sudah melakukan langkah-langkah untuk mengatasi harga jagung yang melambung tinggi, terutama untuk membantu peternak ayam. Dinas telah mengajukan dana subsidi sehingga peternak tetap mendapatkan jagung dengan harga wajar. Setidaknya sudah 7.411 ton jagung dengan harga subsidi telah disalurkan ke peternak.

Kepala Dinas Peternakan dan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang Eko Wahyu Widodo menyebut, kenaikan harga jagung sudah melampaui harga acuan pembelian (HAP). Biasanya, perkilogram jagung terbandrul Rp 5-6 ribu, saat ini harga jagung mencapai Rp 8-9 ribu. Hal ini membuat para peternak ayam mengeluh.

“Jagung saat ini dijual harga Rp 8-9 ribu perkilogram, itu menjadi Rp 5 ribu saja,” katanya saat ditemui Kamis (1/2/2024) kemarin di kantornya.

Walaupun begitu, tidak semua masyarakat bisa menikmati harga jagung yang relatif murah. Karena, kata Eko, peternak harus tergabung ke dalam asosiasi ataupun koperasi. Dari merekalah (asosiasi) nama mereka diajukan dengan jumlah jagung yang dibutuhkan.

“Ketika turun nanti dari pusat, diambil lalu dibagikan ke mereka lewat asosiasi ataupun koperasi tadi,” katanya.

Hingga 29 Januari 2024 kemarin, dari data Dinas Peternakan dan Hewan Kabupaten Malang, sebanyak kurang lebih 7.411 ton jagung sudah tersalurkan kepada peternak ayam petelur.

Rincianya, untuk asosiasi Sentra Telur Intan Jatim, sebanyak 6.329 ton jagung sudah terkirim. Sedangkan untuk koperasi Pinsar Petelur Nasional (PPN) Malang, sekitar 1.082 ton jagung sudah terkirim.

“Pertanggal 29 Januari 2024 sudah ada yang turun,” katanya.

Saat disinggung, dalam setahun bisa mengusulkan berapa kali bantuan subsidi jagung ke pemerintah pusat?, Eko mengaku, tergantung situasi dan kondisi (Sikon) di lapangan. Jika harga telur naik, kemudian harga pakan juga naik, mungkin di situ masih seimbang.

Akan tetapi, lanjut Eko, jika harga telur turun, sedangkan harga pakan naik, maka akan dilakukan pengajuan. Sebab, hal itu sangat memberatkan masyarakat.

“Iya, tergantung situasi di lapangan,” pungkasnya. (nif/ono).