Opini  

Generasi Muda di Bayang-bayang Senior Politik

Oleh: Nadia Milyani Selian, 210301058, Komunikasi Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

MEMOX.CO.ID – Dalam dinamika politik yang terus berkembang, peran generasi muda memiliki dampak signifikan terhadap arah dan kebijakan suatu negara. Generasi muda, yang mencakup individu-individu dengan rentang usia tertentu, memegang kunci penting dalam membentuk masa depan politik.

Dalam lima tahun ke depan, keputusan nasib Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh pemilih muda, yang merupakan mayoritas dalam pemilu. Lebih dari 68 juta adalah milenial, lahir awal 1980-an dan, sedangkan 46 juta sisanya termasuk dalam Generasi Z, lahir antara pertengahan 1990-an. Sebagian dari Generasi Z ini adalah pemilih pemula, dan Pemilu kali ini akan menjadi pengalaman pertama bagi mereka. Meskipun secara umum dianggap apatis terhadap perkembangan politik, generasi muda Indonesia, khususnya Generasi Z, kini semakin terlibat dalam pemilu. Namun, seringkali terdapat tantangan dan hambatan yang dapat menghambat kontribusi optimal generasi muda dalam proses politik.

Beberapa tahun terakhir, terdapat dinamika ketidaksetaraan akses, dimana generasi muda seringkali dihadapkan pada hambatan dan diskriminasi yang membuat mereka sulit untuk memasuki arena politik. Senior politik seringkali memegang kendali besar terhadap keputusan strategis dan pengambilan kebijakan. Ini dapat menciptakan ketidaksetaraan dalam distribusi kekuasaan dan kesempatan, mengakibatkan minimnya representasi generasi muda dalam proses-proses politik yang signifikan.

Resistensi dan pandangan meremehkan yang sering kali datang dari senior politik menciptakan hambatan yang sulit diatasi bagi generasi muda. Kendala ini mencakup ketidakmungkinan untuk mendapatkan akses pengambilan keputusan strategis, membatasi peran dan kontribusi mereka dalam proses politik yang lebih luas. Kemudian, Pola pikir konservatif yang masih melibatkan senior politik sering kali menahan perkembangan ide-ide baru dan solusi inovatif yang bisa dibawa oleh generasi muda. Hal ini menciptakan tantangan dalam menciptakan transformasi politik yang diperlukan untuk mengatasi perubahan zaman dan memenuhi tuntutan masyarakat. Selain itu, akses terbatas generasi muda terhadap sumber daya politik dan peluang yang tidak merata dalam proses politik, mendapatkan posisi kunci, dan mengartikulasikan aspirasi mereka dapat terhambat oleh ketidaksetaraan dalam akses dan distribusi sumber daya politik.

Senioritas menciptakan suatu stigma bahwa generasi muda dianggap belum cukup matang atau berpengalaman untuk terlibat dalam keputusan politik yang penting. Serta persepsi bahwa mereka kurang serius atau kurang kompeten dalam urusan politik, ini semakin memperumit jalan mereka untuk diakui sebagai kekuatan yang relevan dalam arena politik.

Generasi muda dan senior seringkali menyuarakan pandangan dan nilai yang berbeda, menciptakan dinamika yang kompleks dalam perjalanan demokrasi. Salah satu perbedaan mendasar adalah dalam pandangan mengenai isu-isu prioritas. Generasi muda, seringkali lebih terkoneksi dengan isu-isu global, hak asasi manusia, dan keberlanjutan lingkungan, sementara senior politik lebih cenderung memprioritaskan isu-isu yang berkaitan dengan stabilitas ekonomi, keamanan nasional, atau tradisi sosial.

Generasi muda lebih mendukung nilai-nilai progresif, inklusivitas, dan keberagaman, sementara senior politik dapat mempertahankan nilai-nilai konservatif yang mencerminkan tradisi dan warisan budaya. Perbedaan pandangan ini sering kali menciptakan gesekan dan ketegangan dalam proses pembuatan keputusan politik.

Untuk membangun jembatan komunikasi antara generasi muda dan senior dalam dunia politik, perlu mengambil langkah-langkah solutif. Salah satunya dengan diadakan forum dialog terbuka secara rutin antara generasi muda dan senior politik. Ini menjadi wadah untuk berbagi pandangan, mendengarkan aspirasi, dan mencari pemahaman bersama terkait isu-isu politik. Kemudian, pembentukan program mentoring di mana senior politik berperan sebagai mentornya generasi muda. Ini tidak hanya memberikan bimbingan dalam hal kebijakan politik, tetapi juga menciptakan ruang pertukaran ide dan pengalaman antargenerasi. Platform digital juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan komunikasi antara generasi muda dan senior politik. Pemanfaatan media sosial, atau webinar menjadi sarana efektif untuk berbagi informasi, diskusi, dan mengatasi hambatan komunikasi.

Kolaborasi antara generasi muda dan senior dalam dunia politik menjadi keharusan untuk mencapai kemajuan yang berkelanjutan. Seiring perubahan zaman dan kompleksitas isu-isu politik, kedua kelompok ini memiliki peran penting yang saling melengkapi.

Dengan menggandeng keduanya, politik dapat menjadi wadah yang lebih inklusif dan responsif terhadap berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat. Kolaborasi ini bukan hanya berbicara tentang meredam gesekan antara generasi, melainkan menciptakan suasana kerja sama yang harmonis untuk mencapai tujuan bersama: kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. (*)