MEMOX.CO.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bondowoso mengangkut sekitar 3 ton sampah setelah pelaksanaan pengajian akbar yang menghadirkan pendakwah KH Muhammad Iqdam Kholid atau Gus Iqdam di Alun-Alun Ki Bagus Asra, Minggu (25/10/2026) malam. Pembersihan dilakukan secara lembur oleh puluhan petugas hingga Senin (26/10/2026) pagi.
Kepala DLH Bondowoso, Henry Kurniawan, mengatakan estimasi awal sampah yang berhasil diangkut mencapai sekitar 3 ton. Sampah tersebut didominasi material berukuran besar yang tersebar di area dalam alun-alun dan sejumlah ruas jalan di sekitarnya.
Untuk menangani tumpukan sampah tersebut, DLH mengerahkan 35 petugas kebersihan. Mereka bertugas menyisir seluruh kawasan Alun-Alun Ki Bagus Asra, mulai dari bagian dalam, jalur pedestrian, hingga jalan raya yang mengelilingi kawasan pusat kota Bondowoso.
“Untuk sementara, sampah di jalan-jalan seputaran alun-alun dan bagian dalam sudah kami selesaikan. Namun, masih perlu finishing karena di lokasi masih ada kegiatan pembongkaran panggung dan properti acara. Setelah itu baru kami lakukan pembersihan secara menyeluruh,” ujar Henry saat dikonfirmasi, Senin (26/10/2026) pagi.
Henry menjelaskan, pembersihan dilakukan sejak malam setelah kegiatan berlangsung. Namun, hingga Senin pagi, proses penanganan sampah belum sepenuhnya rampung karena masih terdapat aktivitas pembongkaran panggung dan properti acara di lokasi.
Ia memastikan petugas akan kembali melakukan penyisiran setelah proses pembongkaran selesai. Pembersihan lanjutan tersebut diperlukan untuk memastikan tidak ada sampah yang tertinggal, baik di dalam alun-alun maupun di area publik yang digunakan selama kegiatan.
Terkait pengerahan petugas hingga harus bekerja lembur, Henry membenarkan bahwa DLH menerapkan sistem kerja tambahan untuk mempercepat pemulihan kebersihan kawasan. Menurutnya, pola kerja tersebut bukan hanya diterapkan pada pengajian akbar kali ini, melainkan juga pada kegiatan besar lainnya yang berlangsung di wilayah Bondowoso.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelaksanaan tugas tetap memperhatikan kondisi fisik dan kemampuan para petugas kebersihan. DLH, kata dia, telah memperhitungkan kemampuan personel sebelum mengatur pembagian pekerjaan di lapangan.
“Ya, kami semua bekerja lembur. Tidak hanya pada event ini saja, di event-event lain juga demikian. Mengenai isu petugas nyaris pingsan atau sakit, itu tidak ada. Kami sudah siapkan dan ukur kemampuan mereka,” tegasnya.
Henry menambahkan, proses pembersihan lanjutan di kawasan alun-alun juga harus disesuaikan dengan jadwal kerja rutin petugas. Pada pagi hari, personel kebersihan terlebih dahulu menjalankan tugas menyapu jalan-jalan protokol di wilayah perkotaan sebelum melanjutkan penyelesaian pembersihan di lokasi pengajian.
Menurut Henry, penanganan sampah setelah kegiatan berskala besar membutuhkan pengaturan waktu dan tenaga agar kebersihan fasilitas publik dapat segera dipulihkan tanpa mengabaikan pelayanan kebersihan rutin di wilayah lain.
Mengenai tingginya volume sampah setelah pengajian akbar yang turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan tersebut, Henry menyebut panitia penyelenggara telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan dinas terkait sebelum kegiatan dilaksanakan.
Namun, jumlah sampah yang muncul di lapangan ternyata cukup besar. Tingginya antusiasme masyarakat yang menghadiri pengajian menjadi salah satu faktor yang membuat volume sampah lebih banyak dibandingkan kegiatan sebelumnya.
“Panitia sudah berkoordinasi dengan kami. Namun, animo masyarakat yang sangat tinggi untuk menghadiri pengajian menjadikan volume sampah jauh lebih banyak dibanding event-event sebelumnya,” ungkap Henry.
Besarnya volume sampah tersebut menjadi perhatian DLH, terutama dalam upaya menjaga kebersihan kawasan pusat kota setelah digunakan untuk kegiatan yang melibatkan banyak orang. Selain area utama acara, ruas jalan dan jalur pedestrian di sekitar alun-alun juga menjadi sasaran pembersihan karena termasuk bagian dari ruang publik yang terdampak kegiatan.
Saat ditanya mengenai kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan selama acara berlangsung, Henry tidak memberikan penilaian secara langsung. Ia menyerahkan hal tersebut kepada masyarakat untuk menilai berdasarkan kondisi yang ditemukan setelah kegiatan selesai.
“Bisa dinilai sendiri oleh masyarakat,” katanya.
Ke depan, DLH Bondowoso berencana mengoptimalkan sistem pengelolaan sampah untuk setiap kegiatan berskala besar yang menggunakan fasilitas publik. Langkah tersebut mencakup penguatan koordinasi dengan penyelenggara serta penataan skema penanganan sampah agar pembersihan dapat dilakukan lebih cepat setelah acara berakhir.
Henry mengatakan, ketentuan mengenai pengelolaan sampah sebenarnya telah disampaikan kepada setiap pihak yang menggunakan tempat atau fasilitas publik. Meski demikian, mekanisme penanganan di lapangan akan kembali diperkuat agar pelaksanaan kegiatan tidak meninggalkan persoalan kebersihan dalam waktu lama.
DLH menargetkan pembersihan kawasan kegiatan dapat diselesaikan maksimal dua jam setelah acara bubar.(rif/syn)






