DKPP Bojonegoro dan Gapoktan Panen Kacang dengan Sistem Biosaka, Kembalikan Kesuburan Tanah  

DKPP Bojonegoro dan Gapoktan Panen Kacang dengan Sistem Biosaka. (foto:ist)

Peningkatan pendapatan yang diterima oleh Mujianto adalah Rp 5 juta. Dengan demikian terbukti bahwa salah satu solusi dalam mengurangi biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani adalah dengan penggunaan Biosaka.

Biosaka, lanjut dia, bukan pupuk dan bukan pestisida. Namun Biosaka itu elisitor yang memberikan signaling memperbaiki tanaman dan ekosistem.

“Elisitor Biosaka tidak menggunakan mikroba maupun proses fermentasi dalam pembuatannya dan bukan teknologi yang rumit, tapi hanya sesuatu yang sederhana sekali. Dalam membuatnya tidak menggunakan mesin, hanya dengan tangan,” pungkasnya.

Ada tujuh kelebihan bahan ini menurut penemunya. Pertama, efektifitas kinerja yang baik. Reaksi biosaka dapat dilihat dalam waktu 24 jam setelah aplikasi. Kedua, dapat digunakan pada seluruh fase tanaman, mulai dari benih sampai panen.

Ketiga, proses produksi sangat cepat karena tidak menggunakan metode fermentasi yang memakan waktu paling cepat 1 minggu. Keempat, cara penggunaan mudah dan dosis sangat sedikit, cukup 30 ml per tangki dan untuk tanaman kacang membutuhkan 2-4 tangki/ha. Penyemprotan dari mulai tanam sampai panen dilakukan sekitar 8 kali aplikasi. 

Kelima, dapat diterapkan pada semua komoditas, termasuk tanaman perkebunan. Keenam, dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50-90 persen, sehingga dapat menghemat biaya produksi. Ketujuh, bahan baku Biosaka juga tersedia setiap saat di lingkungan petani, dimana dan kapanpun.

Elisitor Biosaka dibuat dari bahan rerumputan dan daun tanaman berpohon yang sedang dalam pertumbuhan optimal. Berciri, daun dalam keadaan sehat, tidak terserang hama, jamur, virus dengan warna hijau segar, serta tidak terlalu tua atau muda. 

“Selain itu tidak boleh dari daun berlendir dengan jumlah antara 5-20 jenis dedaunan,” ujarnya.