Indeks

Dari Limbah Jadi Kompos, Petani Hyang Argopuro Andungsari Belajar Manfaatkan Kulit Kopi

Dari Limbah Jadi Kompos, Petani Hyang Argopuro Andungsari Belajar Manfaatkan Kulit Kopi
Antusias anggota kelompok tani mengikuti pelatihan limbah kulit kopi menjadi pupuk kompos di Desa Andungsari Kecamatan Pakem, Bondowoso, Kamis 24 September 2026. (foto:arif/memox)

MEMOX.CO.ID – Puluhan petani dari Kelompok Tani Andungsari 1 dan Andungsari 1B mengikuti pelatihan pengolahan limbah kulit kopi menjadi pupuk kompos di Desa Andungsari, Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso tersebut merupakan bagian dari pembinaan kelembagaan Petani Kopi Hyang Argopuro dengan mengusung tema “Menguatkan Kelembagaan Meningkatkan Daya Saing Kopi Hyang Argopuro yang Berkelanjutan.”

Pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam memanfaatkan limbah kulit kopi agar memiliki nilai guna sekaligus mendukung penerapan pertanian berkelanjutan.

Kepala Desa Andungsari, Mulyono, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut karena dinilai memberikan solusi terhadap persoalan limbah kopi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Karena di sini limbah kopi itu menjadi kotoran yang tidak berguna. Bahkan kotoran itu membuat bau yang tidak sedap. Seringkali dibuang, hanyut di irigasi atau di sungai, itu menjadi pencemaran,” ujarnya.

Menurutnya, limbah kopi yang tidak dikelola kerap dibuang ke saluran irigasi maupun sungai sehingga berpotensi mencemari lingkungan dan menimbulkan bau tidak sedap.

Dalam praktiknya, petani diberikan pemahaman mengenai pengolahan kulit kopi yang dicampur dengan kotoran ternak, dedak, dan bahan pendukung lainnya melalui proses fermentasi hingga menjadi kompos.

Kompos hasil pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk lahan pertanian guna membantu meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung produktivitas tanaman kopi.

Pemanfaatan limbah kulit kopi juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk dari luar sekaligus membuka peluang ekonomi melalui produksi kompos secara mandiri.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat mendorong masyarakat mengubah limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi produk yang bermanfaat, terutama untuk memenuhi kebutuhan pertanian.

Mulyono juga meminta para peserta mengikuti pelatihan dengan serius dan aktif mengajukan proposal bantuan kepada dinas terkait sesuai kebutuhan serta kemampuan masing-masing kelompok tani.

Menurutnya, pertanian menjadi salah satu potensi utama yang dapat mendorong perkembangan Desa Andungsari, khususnya melalui komoditas kopi dan tembakau.

“Potensi Desa Andungsari yang akan mengangkat Desa Andungsari berkembang, itu menurut kami pertama itu dari segi pertanian kopi dengan tembakau,” pungkasnya.

Melalui pengolahan limbah kulit kopi menjadi kompos, petani diharapkan dapat mengurangi persoalan limbah sekaligus menerapkan pola pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan dengan memanfaatkan kembali limbah sebagai bagian dari kebutuhan produksi pertanian.

Kegiatan tersebut dihadiri Kabid Penyuluhan, Kabid PSP, tim teknis dan staf pendukung, perwakilan Bapperida, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta Pendamping Peti Koin Bermantra.(rif/syn)

Exit mobile version