Ketika hasil survei menunjukkan angka lebih kecil dari lawan politik, maka disitulah integritas demokrasi digoda politik setan
Terkadang survei elektabilitas seperti perempuan rupawan nan seksi lewat di depan rumah. Walau si empunya rumah tak ingin melihatnya, tapi serasa terpanggil menoleh sejenak.
Ketika diberi senyuman, wiiiih….hati senang. Tapi bila dicuekin, maka timbul rasa kesal karena merasa dirinya menarik. Lalu masuk ke dalam rumah, kemudian bercermin dan berpikir “Apakah saya tidak menarik?” Atau kalau memang pede “Banyak yang orang yang suka dengan saya. Peduli amat dengan perempuan tadi” #eeh…
Dalam sejumlah survei elektabilitas pilpres 2019, Jokowi-Ma’ruf Amin lebih tinggi dibandingkan Prabowo-Sandi. Jokowi-Ma’ruf Amin mendapatkan angka rata-rata dikisaran 50an persen, sedangkan Prabowo-Sandi dikisaran 30an persen.
Sebagai contoh salah satu dari lembaga survei yang kredibel dari lembaga LSI; angka tertinggi 58,7 persen untuk Jokowi-Ma’ruf Amin, sedangkan Prabowo-Sandi 30,9 persen.
Bila dilihat dari berbagai hasil lembaga survei, perbedaan tingkat elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin dengan Prabowo-Sandi cukup mencolok, yakni di kisaran 10-20 persen.
Hasil survei elektabilitas bukanlah realitas sesungguhnya dari sebuah kemenangan di Pilpres 2019. Survei eletabilitas hanyalah sebuah prediksi atau perkiraan dengan metode ilmiah yang dilakukan lembaga survei terhadap para pemilik hak suara di dalam kurun waktu tertentu sebelum hari pencoblosan. Realitas sesungguhnya ada pada perhitungan akhir surat suara setelah hari H Pilpres.
Demi Indonesia lebih baik di masa mendatang, kita berharap setelah keluarnya survei elektabilitas yang kredibel dan sisa masa menjelang hari H pencoblosan tidak ada cara-cara tidak etis. (*)





