Tingginya Angka Anak Perokok, Dinkes Kab Malang Beri Layanan UBM di Puskesmas

Sub Koordinator Subtansi PTM dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Malang Paulus Gatot Kusharyanto. (Foto:nif)

MEMOX.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang terus berupaya menekan tingginya angka perokok aktif anak di Kabupaten Malang. Salah satu upaya yang ia lakukan dengan melakukan pelayanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) di setiap puskesmas.

Sub Koordinator Subtansi PTM dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Malang Paulus Gatot Kusharyanto mengaku, sudah ada 27 Puskesmas dari 39 Puskesmas yang sudah diberi pelatihan UBM di Kabupaten Malang.

“Sisanya nanti akan dilakukan pelatihan lagi,” katanya.

Salah satu contoh Puskesmas yang belum dilakukan pelatihan UBM adalah Puskesmas Sitiarjo. Karena waktu melakukan pelatihan, ia tidak bisa hadir lantaran akreditasi puskesmas.

Puskesmas yang sudah dilakukan pelatihan, lanjut Gatot sapaan akrabnya Paulus Gatot Kusharyanto, akan mendatangi atau didatangi untuk melakukan bimbingan maupun skrining kepada anak-anak di sekolah.

“Skrining itu nantinya menggunakan alat CO analyzer untuk mendeteksi kadar kantong dioksida di paru-paru yang sudah tersebar di setiap Puskesmas di Kabupaten Malang,” terangnya.

Kalau nilainya tinggi, berarti anak itu adalah perokok aktif. Sehingga langsung dilakukan bimbingan konselor tentang upaya berhenti merokok.

“Kategori tinggi kalau nilainya 6 ke atas. Kalau 6 kebawah berati bagus,” ujarnya.

Gatot mangaku, sekolah yang sudah dilakukan skrining salah satunya yakni SMK Berantas, Kecamatan Sumberpucung dan Kecamatan Bululawang, An-Nur.

“Dari 100 anak misalnya di sekolah itu yang kami sasar, yang ditemukan 9-10 anak yang tinggi,” katanya.

“Kalau secara data keseluruhan, dari 351.588 anak usia 10-18 yang menjadi sasaran di Kabupaten Malang, hanya 4.178 atau 1,2 persen yang merokok di tahun 2024 ini selama 5 bulan,” lanjutnya.

Sedangkan untuk tahun 2023, dari 322.941 anak yang menjadi sasaran, sebanyak 10.889 atau 3,4 persen yang merokok. Walaupun jumlahnya menunjukkan angka penurunan, namun Gatot mengaku akan terus berusaha melakukan program UBM.

Selama tahun 2024 ini saja (Januari-Mei), Dinkes sudah melakukan kunjung UBM sebanyak 48 kunjungan. Kunjungan ini melebihi dari data tahunan di tahun 2023 yang hanya 44 kunjungan.

“Alasan paling banyak saat kita kunjungan itu mengapa mereka merokok karena terpengaruh dari lingkungan sekitar. Misalnya orang tuanya meroko, jadi anaknya ingin mencobanya,” pungkasnya. (nif)