Masalah Pipa Sering Rusak di PDAM Kota Malang

Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri (memox/ist)
Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri (memox/ist)

Kerusakan Itu Tanggungjawab Direktur Teknik

Malang, Memo X – Polemik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang yang sudah berkepanjangan membuat akademisi Universitas Brawijaya Malang, Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri., MS bersuara. Pria yang pernah menjabat sebagai Rektor UB Periode 2014-2018 ini melihat bahwa permasalahan PDAM Kota Malang bisa diprediksi bila studi kelayakan diawal sesuai. Hal ini disampaikan saat diwawancarai Memo X pada Selasa (27/09/2022).


“Jadi harus tahu detail pipa seperti apa. Karena sebelum hibah pusat dari Kementerian PUPR pasti ada studi kelayakan pemasangan pipa. Studi kelayakan dilanjut ke detail engineering design untuk detail berkaitan seperti ketinggian air, berapa bar tekanannya, diameter dan ketebalan pipa. Tebal, dimensi, tekanan saling berhubungan,” ungkap Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri., MS.


Pastinya soal kelayakan pemasangan pipa itu ada pada Direktur Teknik PDAM. Karena ia yang mestinya membuat studi kelayakan. Pria yang juga merupakan Guru Besar Teknik Pengairan pertama UB ini mengatakan faktor lain yang mempengaruhi seringnya kebocoran adalah sudah “masuk angin” pipa.
Apalagi pipa sudah masuk angin, air tidak bisa penuh. Dan saat tekanan tinggi, angin akan mendesak pipa yang menyebabkan pipa akan pecah. Inilah yang membuat mati air di berbagai wilayah di Kota Malang.


Sebelumnya memang beberapa wilayah mengalami mati air seperti di daerah Kelurahan Wonokoyo Kecamatan Kedungkandang yang mengakibatkan 800 KK harus mandi di sungai pada pertengahan Agustus 2022 lalu. Wilayah lain seperti Kelurahan Buring, Tlogowaru, Wonokoyo dan Kedungkandang juga bermasalah saat itu. Dikarenakan adanya masalah pada pipa transmisi suplai air Sumberpitu, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Dengan total ada 10 ribu pelanggan terdampak secara bergantian mati air di wilayahnya


“Karena pipa kan hibah dari Kementerian PUPR, harus dilihat siapa yang dapat hibah. Apakah itu Perumda Tugu Tirta ataukah Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS). Kalau BBWS tentu Tugu Tirta tidak bisa berbuat banyak, begitupun sebaliknya. Alternatif seperti Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) memang bisa tapi dalam keadaan darurat saja. Jangan terus menerus karena bisa berdampak pada konservasi air,” imbuhnya.


Mantan Rektor ke 12 UB ini menyebut, alternatif paling pas dengan menggunakan air permukaan dan air sungai. Dimana air sungai di Kota Malang lebih jernih dari Kota Surabaya dan Jakarta yang sudah mulai menggunakan air permukaan.


“Malang itu airnya lebih bersih, jadi lebih bagus pakai air permukaan. Dewan (DPRD Kota Malang, Red) juga beberapa kali konsul saya bahwa sekarang memang harus mulai kemandirian air bersih. Saat tren sumber air mengalami penurunan sebesar 20-30 persen karena tidak ada konservasi air tanah. Dan kita tidak pernah injeksi air,” tegasnya.


Solusi yang diberikan sebagai akademisi pengairan tentu yang pertama: jangka pendek memang menggunakan SPAM di Sumberpitu, sambil menunggu yang mempunyai kewenangan dalam hal memelihara itu siapa. Apakah itu Tugu Tirta atau BBWS. Dan sebisa mungkin menggunakan air sungai dan air permukaan untuk mencegah penggunaan air tanah berkepanjangan (wdy/red)