Wasisto : Amien Tidak Konsisten Soal Pembelaan Terhadap Umat Muslim

Jakarta, Memox.co.id – Usai KPU (Komisi Pemilihan Umum) menetapkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019, pada tanggal 27 Juni 2019 kini elite partai politik sibuk membahas rekonsiliasi politik, Selasa (23/07/19).

Upaya rekonsiliasi yang seharusnya bertujuan untuk menghentikan konflik akibat pemilu malah terlihat sebaliknya.

Elite parpol baik di kubu Jokowi-Ma’ruf ataupun oposisi Prabowo Suianto-Sandiaga Uno justru dinilai memaknai rekonsiliasi itu sebagai upaya meraup ‘kue’ kekuasaan alias bagi-bagi kursi.

Upaya berebut kursi di pemerintahan lima tahun ke depan itu salah satunya tercermin dari pernyataan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais yang meminta dua syarat rekonsiliasi dengan kubu Jokowi-Ma’ruf.

Syarat pertama yang disampaikan Amien yakni ide-ide dari kubu Prabowo-Sandi yang harus diterima dan kedua pembagian kursi kekuasaan 55 banding 45.

Tak hanya itu, Amien bahkan menyebut apabila ada partai oposisi yang tetap nekat menyeberang ke koalisi pemerintah akan tetap menanggung dosa. Terlebih, jika itu hanya karena menerima tawaran satu kursi menteri.

“Sungguh aib kalau ada partai pendukung 02 tiba-tiba menyeberang hanya karena satu kursi ecek-ecek, kemudian dosanya dua,” kata mantan Ketua MPR itu.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai konsep rekonsiliasi yang ditawarkan Amien Rais hanya dijadikan sebagai kedok politik transaksional dimana ia atau kelompoknya ingin membidik jabatan tertentu di pemerintahan Jokowi.

“Intinya ada kedok politik transaksional dibalik syarat rekonsiliasi ala Amien Rais itu,” kata Wasisto kepada pada salah satu media online.

Tidak hanya itu Wasisto juga mengatakan pernyataan Amien terkait semangat rekonsiliasi hanya sekadar kiasan semata. Ia mengatakan pernyataan itu justru makin menandakan politik transaksional sedang dimainkan oleh Amien sebagai prasyarat dengan kubu Jokowi.

“Itu bagian dari politik transaksional dimana rekonsiliasi sendiri hanya bermakna kiasan saja. Tidak ada makan siang gratis dalam politik praktis,” kata dia.

Wasisto kemudian memprediksi para pendukung Amien Rais, terutama pada kelompok-kelompok berhaluan Islam akan banyak yang kecewa terhadap permintaannya tersebut.

Ia mengatakan para pendukungnya itu akan kecewa karena selama ini Amien konsentrasi memperjuangkan umat seperti membela imam besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ketimbang tergoda dengan kursi kekuasaan

“Terutama dari kelompok 212 akan kecewa berat karena pada akhirnya Amien tidak konsisten soal pembelaan terhadap umat muslim dan kriminalisasi Habib Rizieq, malah justru tergoda kursi kekuasaan,” kata dia. (@)