Warga Desa di Jember Pasang Patung Ptakotan, Diyakini untuk Tolak Bala Pagebluk

  • Bagikan
TOLAK BALA: Salah satu patung Ptakotan yang diyakini warga bisa untuk mengusir pageblug.

Jember, Memox.co.id – Ratusan warga di Dusun Kedunglengkong, Desa Menampu, Kecamatan Gumukmas, memasang patung dari bambu dan batok kelapa di depan rumahnya sejak beberapa hari belakangan. Patung yang akrab disebut Ptakotan itu, memiliki ukuran tinggi bervariasi. Mulai dari berukuran 1 – 1,5 meter. Patung itu memiliki beraneka macam bentuk. Dari bentuk pocong dan juga ada yang berbentuk karakter kartun.

Menurut warga setempat, patung Ptakotan itu sebagai tolak bala dari penyakit, yang oleh masyarakat disebut pagebluk. Yakni penyakit yang mendadak/wabah. “Patung itu macem-macem bentuknya, ada yang berwujud pocong dan juga wanita. Ada yang dibuat serupa anak-anak, karakter kartun dengan corak warna warni dikasih, dan baju, ada juga diberi Helm. Bahkan ada juga yang diberi masker layaknya manusia, dipasang disamping rumah tiap-tiap warga,” kata salah seorang warga, Sarmuji saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Rabu (28/7/2021).

Sarmuji mengatakan, adanya patung Ptakotan itu dipercaya warga setempat, katanya, merupakan kebiasaan warga setempat yang mayoritas suku Jawa dan Madura. “Yang katanya orang tua dulu itu, untuk menangkal penyakit Pagebluk. Patung-patungan itu sengaja dibuat agar terhindar dari malapetaka bencana dan balak. Karena sekarang lagi musim orang meninggal dengan sakit yang singkat. Dari hitungan hari dan jumlahnya (yang meninggal) antara 2-4 orang secara bersamaan,” ucapnya.

Lebih lanjut Sarmuji menjelaskan, dirinya sengaja memasang patung Ptakotan ini, lantaran kondisi wabah virus Covid-19 semakin menjadi-jadi. “Apalagi banyak orang sakit, hanya beberapa hari lalu meninggal. Makanya untuk mencegah penyakit Pagebluk atau istilah orang Jawa Aratan, (Bersama-sama) saya dan warga pasang ini,” sambungnya menjelaskan.

Selain Sarmuji, katanya, juga banyak warga setempat yang ikut memasang patung Ptakotan itu. “Banyak disini, karena mulai zaman saya kecil dulu ketika ada wabah apalagi warga meninggal mendadak dan jumlahnya tidak wajar pasti warga langsung pasang patung untuk pengusir wabah ini,” Kata salah seorang warga lainnya, Novan Al Fawaid saat dikonfirmasi terpisah.

Sementara itu menurut perangkat desa setempat, Rico Rohmatul Hamza. Adanya kebiasaan warga itu tidak dilarang oleh pemerintah desa (pemdes). “Kami pihak desa tidak bisa melarang karena sudah tradisi turun temurun di sini. Namun kami sebagai perangkat desa bisanya mengedukasi warga dari rumah ke rumah untuk memberi pemahaman terkait protokol kesehatan di masa pandemi seperti saat ini. Juga menerapkan 5M, seperti menjaga jarak dan memakai masker tentunya,” pungkas Rico. (ark/tog/mzm)

  • Bagikan