Tiga Bersaudara Atlet Panjat Tebing Pilih Bertahan di Jember Meski Minim Perhatian Pemkab

Tiga Bersaudara Atlet Panjat Tebing Pilih Bertahan di Jember Meski Minim Perhatian Pemkab
Sederet medali yang berhasil diraih atlet panjat tebing cilik asal Jember ini.

Jember, Memox.co.id – Achmad Fawwaz Al Farizi (10), bersama kedua kakaknya Achmad Abdi Kamal Maulana (18) dan Achmad Haydar Priyatama (16). Dikenal sebagai atlet panjat tebing di Jember.

Mereka adalah anak-anak dari pasangan Mariyono (50) dan Nuriyati Ningsih (45). Warga Lingkungan Krajan, Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang.    

Achmad Haydar Priyatama Kakak dari Fawwaz mengatakan, dirinya bersama dua adiknya belajar olahraga panjat tebing sejak kecil.

Baca juga: Pembangunan Padang Golf Rp 5 Miliar dan Dua RSD Senilai Rp 15 Miliar Dianggarkan di APBD Jember Tahun 2022

“Fawwaz itu berlatih panjat tebing sejak umur 3 tahun. Kalau saya pertama kali waktu masih kelas 3 SD. Awalnya saya itu senang memanjat pohon di depan rumah. Akhrinya sama Pakde bilang ke ayah saya agar diarahkan ke olahraga panjat tebing itu,” kata Kakak Pertama Fawwaz, Achmad Abdi Kamal Maulana Saat dikonfirmasi di rumahnya, Minggu (14/11/2021).    

Dari itulah, kata pria yang akrab dipanggil Didi ini, dirinya mengenal dan berlatih olahraga panjat tebing.

“Alhamdulillah orang tua mendukung, apalagi ayah saya juga pecinta olahraga ekstrem dan dulunya anggota Pecinta Alam. Kalau ayah, yang biasanya olahraga outdoor, kayak rafting, arung jeram, dan lain-lain,” bebernya.     

Setelah menekuni olahraga panjat tebing, katanya, dari sanalah kedua adiknya juga ikut jejaknya.

“Fawwaz itu awal latihan sejak umur 3 tahun. Ya saat awal-awal adanya alat latihan papan panjat tebing di rumah. Tiba-tiba naik. Tapi kemudian diawasi dan ada pelatihnya Pak Nur itu. Akhirnya kami semua, ikut olahraga panjat tebing,” ulasnya.     

Tiga Bersaudara Atlet Panjat Tebing Pilih Bertahan di Jember Meski Minim Perhatian Pemkab
Ahmad Fawaz Al Farizi saat berlatih panjat dinding di rumahnya.

Terkait akomodasi selama berkompetisi di olahraga panjat tebing. Diakui Didi, kebanyakan biaya yang dikeluarkan pribadi.

“Bahkan pembuatan papan panjat tebing untuk latihan di rumah ini. Biaya sendiri, beli pin, harnes, sepatu, bahkan latihan lainnya untuk biaya transportasi. Saya pun sekolah di SMA Olahraga di Sidoarjo. Bukan di Jember. Karena Alhamdulillah prestasi dari panjat tebing ini,” ungkapnya.     

Lebih jauh Didi mengakui kurangnya perhatian pemerintah daerah, soal prestasi dari atlet.

“Jarang sekali dapat perhatian pemerintah, lebih banyak sendiri. Seperti kompetisi adik saya ini ke Aceh. Saya berharap ada bantuan pemerintah. Toh kompetisinya nasional dan mewakili Jember. Kalau biaya uang tiket berangkat akomodasi dan uang makan ada. Karena adik juara 1 dan dapat bantuan. Tapi kita butuhnya sangu dan biaya hidup di sana (selama kompetisi). Ini yang jadi kendala,” kata Didi yang juga merangkap pelatih dari Fawwaz.       

Terpisah, Nuriyati Ningsih, ibu dari 3 orang atlet panjat tebing tersebut mengatakan, terkait prestasi olahraga panjat tebing yang diraih anak-anaknya adalah bentuk perjuangan keras dan latihan yang dilakukan.

“Kami orang tua hanya mendukung. Alhamdulillah anak-anak prestasi. Tapi setidaknya bisa mungkin dapat dukungan dari pemerintah. Karena mereka juga membawa nama Jember. Anak saya Didi karena diketahui kurang ada dukungan dari kotanya. Pernah mau direkrut ke Blitar. Bahkan pelatih di sana mengamini, juga anak saya izin ke saya. Saya terserah saja. Karena perhatiannya bagus,” kata Nuriyati.     

Namun karena masih meyakini di Jember adalah tempat asal memulai olahraga Panjat Tebing, anaknya sampai sekarang masih menunggu. 

“Anak saya masih menunggu. Ya semogalah Jember saat ini lebih baik daripada sebelumnya. Apalagi banyak atlet-atlet Jember, terpaksa pindah ke kota atau kabupaten lain, karena kurangnya perhatian,” tuturnya. (vin/mzm)