Beranda TRIBRATA Siaran Pers, Bahaya Besar Pandemi

Siaran Pers, Bahaya Besar Pandemi

68
0
Dr. Frida Kusumastuti M.Si saat menjadi narasumber dalam Expert Sharing Prodi Ilmu Komunikasi.

Misinformasi yang Keluar dari Otoritas Kepakaran dan Otoritas Kekuasaan

Kota Malang, Memox.co.id – Dr. Frida Kusumastuti M.Si, dalam Communication Talk Expert Sharing Prodi Ilmu Komunikasi (IKOM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa, misinformasi yang paling sangat berbahaya adalah misinformasi yang keluar dari otoritas kepakaran dan otoritas kekuasaan.

Lebih lanjut, dalam sesi expert sharing yang disiarkan secara daring melalui studio Laboratorium Ilmu Komunikasi, Rabu (24/06/2020) tersebut, Frida yang merupakan pakar Komunikasi Sosial Pembangunan dan Sosiologi Komunikasi itu mengatakan ada tiga bahaya besar pandemik selain misinformasi yang viral, yaitu rasisme dan stigma, serta low trust society.

Membawakan materi dengan judul ‘Bahaya Besar Pandemi dalam Perspektif Sosial’ Frida menjelaskan, persoalan pandemi bukan hanya soal kesehatan masyarakat dan penyakit, namun juga penting diperhatikan persoalan-persoalan sosial yang menyertai dan bisa mengganggu pencegahan dan penanganan penyebaran virus.

Frida membuat analisis bahaya besar misinformasi yang viral menjadi bahaya besar pertama dalam penanganan krisis pandemi. Misinformasi membuat energi masyarakat habis hanya oleh ketidakpastian dan perdebatan.

Menurut Frida, ada tiga level misinformasi yang harus diwaspadai. Selain level pertama yang paling berbahaya dari otoritas kepakaran dan pemerintahan, level berikutnya adalah misinformasi yang diperdebatkan pada kanal-kanal publik, dimana kanal-kanal itu memiliki viewers dan pemirsa yang sangat heterogen.

“Mestinya, Sesuatu yang masih sebagai isu atau perdebatan di kalangan pakar dan pemerintah, dibahas dalam forum yang terbatas. Semua pihak yang berpotensi sebagai nara sumber, harus bisa menahan diri tidak mengumbar perdebatan hanya untuk popularitas, namun lebih pada kebaikan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” paparnya.

Sedangkan level ketiga misinformasi yang berbahaya adalah informasi dari hasil jajak pendapat ataupun pengalaman individu yang diungkapkan tanpa kejelasan metodologi. Sehingga klaim kebenaran satu akan ditutup dengan klaim kebenaran baru berikutnya, membuat masyarakat berada dalam ketidakpastian kebenaran.

“Situasi pandemik berbeda dengan situasi normal, dimana dalam situasi normal kebebasan berbicara dan berpendapat dijamin undang-undang. Namun dalam kondisi pandemik yang merupakan kondisi krisis, maka kebebasan itu harus dikendalikan,” kata Frida.

Menguraikan bahaya besar lainnya, Frida  menyinggung rasisme, stigma, dan low trust memberi pengaruh negative terhadap upaya-upaya pemerintah dalam percepatan pencegahan dan penanganan pandemi.

“Perlu keterampilan komunikasi dalam mencitrakan kehati-hatian pemerintah, dan keteladanan berbagai pihak untuk menghapus rasisme, stigma dan low trust,” imbuh Frida mantab.

Sesi Expert Sharing Prodi Ilmu Komunikasi selalu menghadirkan dosen-dosen yang pakar di bidangnya. Pada sesi ke empat kali ini, Frida sebagai narasumber dengan moderator Aditya Putra, memberi closing supaya pemerintah mempertimbangkan persoalan-persoalan sosial tadi sebagai bagian dari langkah strategis pencegahan dan penanganan pandemi.

Sisi lain, masyarakat juga harus melatih diri dalam menavigasi informasi dari sumber-sumber yang kredibel, menjauhi sikap rasis dan stigma dengan cara lebih memahami fakta daripada kesimpulan, dan selalu berpikir positif saling memahami bahwa disetiap keputusn atau kebijakan tentu ada alasan yang menjadi pertimbangan kuat.

Frida merekomendasikan perlunya promosi terus menerus sebagai upaya mencegah misinformasi, rasisme dan stigma, serta low trust melalui pendidikan. Baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal, melalui kurikulum maupun aktivitas non kurikulum. (jun)