Sehingga paparan jangka panjang terhadap polusi udara tersebut dapat menyebabkan penyakit pernapasan, seperti asma, bronkitis, dan infeksi paru-paru. Karena partikulat matter juga dapat masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan masalah kesehatan serius.
“Asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah dapat masuk ke dalam rumah dan mempengaruhi kualitas udara dalam ruangan. Ini dapat meningkatkan risiko terhadap masalah pernapasan dan penyakit lainnya, terutama pada anak-anak dan orang yang rentan. Apalagi beberapa sampah, seperti plastik, dapat menghasilkan toksin berbahaya saat dibakar. Toksin ini dapat mencemari udara dan tanah di sekitarnya. Inhalasi atau paparan kulit terhadap toksin ini dapat menyebabkan masalah kesehatan, termasuk kerusakan organ,” paparnya.
Bahkan apabila terjadi paparan jangka panjang terhadap polusi udara dari pembakaran sampah dapat menyebabkan penyakit kronis seperti kanker, penyakit jantung, dan gangguan neurologis. Pembakaran sampah yang tidak terkontrol juga dapat mencemari sumber air, seperti sungai dan danau, dengan zat-zat berbahaya yang dapat merusak ekosistem air dan menyebabkan masalah kesehatan bagi masyarakat yang menggunakan air tersebut.
Terlebih bau dan polusi visual dari pembakaran sampah dapat memiliki dampak psikologis pada penduduk sekitar, menyebabkan stres, ketidaknyamanan, dan masalah kesejahteraan mental. “Jadi untuk mengatasi dampak negatif ini, sangat penting untuk mendorong praktik pengelolaan sampah yang aman dan ramah lingkungan, seperti pengumpulan terpisah, daur ulang, dan pembuangan sampah yang terkendali dan terkelola dengan baik. Pemerintah dan komunitas lokal dapat berperan penting dalam mempromosikan praktik pengelolaan sampah yang lebih baik dan mengurangi risiko kesehatan yang disebabkan oleh pembakaran sampah yang tidak terkontrol,” pungkasnya. (rul)
