Gun-Gun Berharap Jadi Guru
Surabaya, Memo X
Gunadi Putra berhasil mendobrak asumsi minor mayoritas orang yang menyebut penyandang autis sulit dan tidak perlu sekolah tinggi. Gunadi yang akrab disapa Gun-Gun itu dinyatakan lulus sebagai sarjana S1 Sastra Inggris dalam Yudisium Fakultas Sastra (FS) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Rabu (13/2/2019) lalu.
Dan Minggu (7/4/2019) lalu, dia menjadi salah satu wisudawan yang digelar di Dyandra Convention Center. Suadi Winata dan Tjindra Halim, pasangan suami istri (Pasutri) yang merupakan orangtua Gun-Gun pastinya bangga.
Terlebih anak bungsunya yang tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2015 itu, dinyatakan lulus setelah menyelesaikan skripsi berjudul The Mastery of English Vocabulary on Food and Drink by the 4 th Grade Students of Bunga Elementary School Sidoarjo.
Gun-Gun yang tinggal di Delta Asih Pertiwi Kabupaten Sidoarjo ini bahkan sukses meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,74 sehingga berhak menyandang predikat Cum Laude. Ini yang membuat Unitomo memberikan beasiswa studi lanjut jenjang S2 Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) untuk Gun-Gun.
Dilihat sepintas sosok Gun-Gun memang berbeda dengan mahasiswa normal. Tidak mudah untuk mengajaknya berkomunikasi. Kalau pun bisa, perlu upaya ekstra untuk itu. Gesture atau gerak anggota tubuhnya sulit dimengerti. Ia juga cenderung menghindari kontak mata. Bahkan tidak jarang ia berlari kesana kemari, hingga akhirnya berhenti sendiri karena kecapekan.
Semua itu tak lepas dari masa kecilnya, saat berusia 2 tahun dan didiagnosa mengalami autisme, yaitu terjadinya gangguan neurobehavioral (syaraf dan perilaku) yang menyebabkan ia sulit berkomunikasi dan melakukan interaksi sosial dengan orang di sekitarnya.
Kondisi tersebut tidak membuat kedua orangtuanya putus asa. Mamanya, Tjindra Halim, yang saat itu bekerja sebagai guru di sebuah sekolah, langsung memutuskan untuk berhenti bekerja. “Karena Gun-Gun punya kelainan dan butuh perhatian ekstra, maka setelah diskusi dengan suami dan keluarga besar kami, akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja agar bisa mencurahkan waktu sepenuhnya mendampingi dan membimbing Gun-Gun,” tutur Tjindra.
Selama masa tumbuh-kembang, Gun-Gun dibimbing dokter, termasuk sejumlah terapi yang dirancang bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Tujuannya untuk menggali dan mengembangkan apa-apa yang sekiranya jadi minatnya, agar bisa dilatih dan diasah supaya bermanfaat bagi hidupnya. “Melalui terapi ini akhirnya diketahui bahwa Gun-Gun ternyata suka bermain komputer dan punya minat terhadap bahasa Inggris,” ujar Tjindra dengan mata berkaca-kaca.
Sementara untuk melatih kemampuan interaksi sosialnya, selain bersekolah di sekolahan bagi anak berkebutuhan khusus, Tjindra juga memasukkan Gun-Gun ke sekolah umum guna memperluas pergaulannya. Agar ia tidak hanya bergaul dengan sesama penyandang autis, atau lingkungan keluarganya saja.
“Makanya ketika tamat SMA, dan ternyata ia juga ingin kuliah seperti kakaknya. Saya menyarankan dia untuk lebih memilih prodi bahasa Inggris ketimbang komputer. Pertimbangannya karena anak autis cenderung menyukai kegiatan yang berulang-ulang (repetitif), sehingga saya khawatir jika memilih prodi komputer ia akan makin tenggelam di depan layar monitor dan makin jarang bersosialisasi secara fisik dengan orang lain,” jelas wanita 55 tahun ini.
Karena belum berani melepas Gun-Gun berada sendirian di s tempat tanpa pengawalan, maka Tjindra selalu mendampingi ke mana pun ia pergi. “Sebagai orang tua, saya tetap punya rasa khawatir akan ada apa-apa dengan Gun-Gun. Terutama karena ia punya kelainan, yang bisa jadi tidak dimengerti oleh orang lain,” kisahnya.
Selama Gun-Gun menempuh kuliah di Unitomo, Tjindra memang selalu tampak mendampingi. Baik di luar kelas, maupun tak jarang juga di dalam kelas. “Saya diberi izin bapak, ibu dosen untuk menemani Gun-Gun, dan beruntung mereka tidak keberatan. Begitu pun teman-temannya. Mereka semua baik, tidak ada satu pun yang memandang Gun-Gun sebelah mata. Apalagi karena Gun-Gun ternyata juga mampu mengikuti perkuliahan dengan baik,” ujar Tjindra yang juga punya latar belakang sebagai guru bahasa Inggris.
Pengakuan atas kemampuan akademik Gun-Gun datang dari salah seorang dosen FS Unitomo, Hariyono. “Saya pernah memberi soal ujian di kelasnya, dan ternyata Gun-Gun berhasil menyelesaikannya kurang separuh dari waktu yang saya berikan. Lebih hebat lagi, hasilnya hampir tidak ada kesalahan,” tutur kandidat doktor ini dengan bangga.
Lantas apa rencana Gun-Gun setelah diwisuda dan meraih gelar sarjana S1 Sastra Inggris? Gun-Gun mengemukakan keinginannya untuk mengajar bahasa Inggris di SD Bunga, sekolah bagi anak berkebutuhan khusus, tempatnya dulu pernah belajar. “Ya, saya ingin jadi guru di sekolah saya dulu. Supaya mereka juga bisa bahasa Inggris. Tapi saya juga ingin terus kuliah di Unitomo, karena di sini saya punya banyak teman. Dosennya juga baik-baik. Bisa khan?,” tanya yang sempat ada di benaknya.
Dan pertanyaan itu akhirnya terjawab. Ketika prosesi wisuda dilaksanakan, Gun-Gun mendapat kejutan istimewa berupa beasiswa S2 Fikom.
Pada wisuda Unitomo, Minggu (7/4/2019), ada 553 lulusan program D3, S1 dan S2. Masing-masing dari Fakultas Ilmu Administrasi 47 orang, Fakultas Pertanian 99 orang, Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan 43 orang, Fakultas Ekonomi & Bisnis 79 orang, Fakultas Teknik 41 orang, Fakultas Sastra 27 orang, Fakultas Ilmu Komunikasi 91 orang, Fakultas Hukum 87 orang, dan Fakultas Ilmu Kesehatan 39 orang.
Dalam sambutannya, Rektor Unitomo, Dr. Bachrul Amiq, SH., MH., menyampaikan pesan tentang perlunya para wisudawan terus meningkatkan kompetensi agar bisa bersaing di dunia kerja. “Manfaatkan keberadaan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Unitomo yang kini sudah berhak untuk melakukan asesmen dan mengeluarkan sertifikasi atas 24 skema kompetensi. Sayang kalau tidak dimanfaatkan sebab LSP Unitomo kini menjadi LSP perguruan tinggi dengan jumlah skema kompetensi terbanyak di Jawa Timur,” ujar Amiq.
Hampir semua wisudawan dari semua program studi yang ada di Unitomo, tambah Amiq, sudah menempuh sertifikasi dan dinyatakan kompeten oleh LSP Unitomo sebagai kepanjangan tangan Badan Nasional Sertikasi Profesi dalam menilai kompeten tidaknya seseorang dalam suatu bidang kerja. “Namun begitu, upaya untuk terus meningkatkan kompetensi dalam bidang apa pun yang nantinya akan anda geluti harus terus dilakukan dan menjadi ikhtiar anda sepanjang hidup,” imbuh Amiq. (sur/ano)






