MEMOX.CO.ID – Puluhan warga Desa Jatisari, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang datangi Kantor Desa Jatisari, Rabu (10/9/2025). Ia datang untuk menolak pembangunan Indomaret yang terbangun di tepat samping kantor desa Jl. Jatisari RT01/RW02 Desa Jatisari, Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang.
Sarji salah satu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjelaskan bahwa, jika itu terbangun, maka ini akan mematikan mata pencaharian warga sekitar. Padahal ia hidup dengan pembelian warga.
“Warga yang datang ke sini menolak adanya Indomaret. Alasannya Indomaret itu kan sistemnya sudah modern dengan pelayanan yang bagus. Sedangkan kita toko kecil yang keberadaan kita paling pembelinya lingkup masyarakat kita. Kalo nanti ada toko besar itu pasti menyerap konsumen di sini, terus kita kebagian apa?,” katanya.

Kendati dengan demikian, pria 42 tahu itu berharap, pihak desa bisa memberikan perlindungan kepada pelaku UMKM yang ada di desa tersebut.
Lebih lanjut ia menjelaskan, selain itu, dirinya juga mempertanyakan proses pembangunan yang sampai saat ini terus berlanjut. Padahal dalam musyawarah yang digelar pada Rabu 3 September 2025 lalu, dikatakan sudah ada kesepakatan untuk menghentikan bangunan Indomaret sampai permasalahan selesai. Nyatanya sampai saat ini pembangunan itu terus berlanjut.
Selain itu, dirinya juga mempertanyakan prosedural perizinan pembangunan Indomaret tersebut. Karena perijinan ini tidak melalui sosialisasi kepada warga setempat. Ujuk-ujuk perizinan pendirian Indomaret sudah dikeluarkan oleh desa dengan tandatangan Kades.
“Ada dokumen tandatangan sebagian warga menyetujui pembangunan itu. Dari sekitar 31 warga yang tandatangan persetujuan pembangunan ini, hanya sekitar 2-3 orang yang memiliki toko. Sisanya warga biasa. Dan bahkan ada informasi mereka diberikan uang. Nah ini ada apa?,” katanya.
Maka dengan begitu, pertemuan mediasi yang kedua ini, warga sengaja datang untuk meminta penjelasan serta menolak pembangunan Indomaret tersebut. “Tapi nyatanya ketika kami datang ke kantor desa, justru Kadesnya gak hadir,” terang pria penjual toko kelontong itu.
Sementara itu, Sekdes Jatisari Hadi As’ad menerangkan, dirinya tidak mengetahui keberadaan bapak Kades tersebut. Namun semua aspirasi masyarakat yang disampaikan hari ini, akan ditampung. Sebab pemangku kebijakan ada di tangan Kades.
“Kalau prihal dokumen perizinan yang ditanyakan warga saya pribadi tidak tahu. Ujuk-ujuk ada dokumen perizinan seperti itu. Tapi semua aspirasi kami akan tampung,” pungkasnya. (nif/ume).






