PPKM Darurat, Pembeli Hewan Kurban di Situbondo Turun Drastis

Lapak peternakan Al Barokah milik Febriyadi Megantara yang terlihat sepi pembeli.

Situbondo, Memox.co.id – Penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diakui berdampak signifikan pada kegiatan usaha masyarakat. Tak terkecuali pada usaha penjualan hewan kurban jelang Hari Raya Idul Adha.

Suasana jelang Hari Raya Idul Adha yang biasanya ramai dengan transaksi hewan kurban, saat ini nyaris tak terasa. Ramai hewan kurban yang dijajakan di lapak peternakan Al Barokah milik Febriyadi Megantara yang akrab dipanggil Febry, tak sebanding dengan pembeli yang datang, Senin (19/07/2021).

Bahkan, pedagang hewan kurban asal Sumberkolak, Kecamatan Panarukan ini menyebut, omzet penjual hewan kurban tahun ini adalah yang terendah selama satu dekade terakhir.

Febry yang sudah berjualan hewan kurban sejak 5 tahun lalu dengan membuka usaha peternakan Al Barokah dalam usaha penyediaan hewan kurban mengatakan, di masa pandemi usaha penjualan hewan qurban berupa sapi dan kambing sepi pembeli.

Tahun ini di peternakan tersebut, Febry menjajakan 80 ekor kambing dan 10 ekor sapi. Jumlah tersebut, kata dia, bahkan tidak sampai setengahnya dari hewan kurban dijualnya di tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19. Febry mengingat, dulu dirinya bisa menjual hingga 100 ekor lebih kambing dan 20 sapi tiap Idul Adha.

Berkaca pada kondisi Idul Adha tahun sebelumnya, Febry hanya berani menjajakan total sebanyak 90 hewan kurban saja tahun ini. Namun, hingga H-1, dari 90 hewan kurban yang dijajakan, Febry mengaku masih tersisa 50 ekor, 4 sapi dan 46 ekor kambing.

Febry berharap masih ada pembeli di hari terakhir sebelum Idul Adha. “Wah bukannya ada (dampak) lagi, biasanya habis sampai 100 ekor lebih. Sekarang karena pandemi ya jadi cuma segitu itu juga belum habis,” ujarnya.

Padahal, menurut Febry, gelombang pembelian hewan kurban biasanya sudah terjadi tujuh hari sebelum Hari Raya Idul Adha tiba. Di lapaknya, Febry menjual kambing mulai dari harga Rp 2 juta hingga yang paling mahal Rp 4 juta.

Sedangkan untuk sapi, Paling murah Febry menjualnya dengan harga mulai Rp17 juta per ekor. “Efek Pandemi ini boleh dibilang terasa banget dampaknya, mungkin kalau saya bilang 50%-nya saja nggak ada kalau dibanding tahun sebelum pandemi, padahal modal usaha dapat pinjaman dari bank,” ujarnya lesu. (her/mzm)