Polisi dan Bawaslu Geruduk Posko Arteria Dahlan Center

125
0
Ari Hadianto, penaggung jawab Posko Arteria Dahlan Center Blitar bersama Sekretaris Bersama Posko Arteria Dahlan Center, Joko Tri Asmoro.
Ari Hadianto, penaggung jawab Posko Arteria Dahlan Center Blitar bersama Sekretaris Bersama Posko Arteria Dahlan Center, Joko Tri Asmoro.

Blitar, Memox.co.id – Posko Arteria Dahlan Center Blitar di Jalan Sultan Agung Kota Blitar digeruduk polisi dan Bawaslu Kota Blitar, Minggu (5/12/2020).

Posko milik Arteria Dahlan, anggota Komisi III DPR RI tersebut digeruduk lantaran diduga menggelar kampanye terselubung pada minggu tenang Pilkada.

Penanggungjawab Posko Arteria Dahlan Center (ADC) Blitar, Ari Hadianto mengatakan, kejadian yang sangat merugikan pihak Arteria ini berawal dari adanya kegiatan koordinasi dan konsolidasi internal PDIP.

Dimana pihak ADC mengundang pengurus ranting dan anak ranting  PDIP se-Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

“Saat itu yang hadir hanya pengurus ranting dan anak ranting dari Kelurahan Pakunden. Ini murni kegiatan partai, bukan kampanye,” kata Ari Hadianto, Selasa (8/12/2020).

Lebih lanjut Ari menyampaikan, saat acara sedang berlangsung, dia diberi tahu kalau kedatangan 2 anggota intel Polres Blitar Kota dan 3 anggota Bawaslu Kota Blitar.

“Mereka saya temui dan jelaskan, kalau ini bukan kampanye, tapi konsolidasi internal partai. Namun mereka tetap memaksa masuk, untuk melihat dan mengambil foto,” ujarnya.

Ari menambahkan, ketika pihaknya menanyakan surat tugas, kedua anggota intel Polres Blitar tersebut tidak bisa menunjukannya.

“Kami keberatan dengan tindakan arogan dan premanisne semacam ini. Bahkan menanyakan mana calonnya. Namun ketika kami tanya surat tugasnya juga tidak ada,” imbuh Ari.

Ari mengaku, bahwa saat kejadian itu, ada saksi sekitar 20 orang dari pengurus ranting dan anak ranting yang hadir.

“Ini murni kader PDIP bukan masyarakat dan tidak ada paslon. Ini menunjukkan polisi tidak paham hukum dan bertindak sewenang-wenang. Ini rumah partai seharusnya mereka paham. Untuk itu, kami minta diusut, baik dari polisi dan Bawaslu serta polisi harus netral dan tidak memihak salah satu paslon,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Bersama Posko Arteria Dahlan Center, Joko Tri Asmoro, dengan adanya kejadian tersebut, pihaknya merasa dipermalukan dihadapan pengurus ranting dan anak ranting.

“Kita sudah menerapkan protokol kesehatan, membatasi jumlah yang diundang dan waktunya juga tidak berasama-sama. Mereka datangnya bergelombang, dan setiap kelompok hanya sekitar 15 menit ganti kelompok selanjutnya,” jelas Joko Tri Asmoro.

Joko menegaskan, bahwa kegiatan ini jelas bukan kampanye, tidak ada atribut dan paslon yang hadir.

“Masalah ini juga sudah kami laporkan ke Polres Blitar Kota, namun ditolak dengan alasan hanya kesalahpahaman,” tegasnya.

Joko menambahkan, saat diminta untuk dibubarkan kegiatan tersebut dengan alasan masa tenang, pihaknya menolak, bahkan sempat terjadi perdebatan hingga kegiatan selesai.

Setelah laporannya ditolak Polres Blitar Kota, Joko menegaskan, bahwa Posko Arteria Dahlan Center akan melapor ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dan Propam, baik Polda maupun Mabes Polri.

“Kasus ini akan kami laporkan DKPP dan Propam, agar mengusut penyalahgunaan wewenang, baik Bawaslu maupun polisi, termasuk pidana umumnya,” pungkasnya.

Sementara Ketua Bawaslu Kota Blitar, Bambang Arintoko membenarkan, jika pihaknya mendatangi kegiatan di Posko Arteria Dahlan Center.

“Memang benar kita datang, setelah mendapat informasi dari pihak polisi,” kata Bambang.

Lebih lanjut Bambang menyampaikan, awalnya memang ada info kampanye pada masa tenang, sehingga dia menghubungi Panwascam dan selanjutnya mendatangi kegiatan tersebut.

“Saat kami datang, ternyata tidak ditemukan adanya kampanye. Namun hanya membagi sembako dengan tulisan Arteria Dahlan, bukan paslon dan mobil Branding paslon dari kabupaten. Jadi kami hanya menjalankan tugas pengawasan, mengecek kebenaran informasi yang diterima,” jelas Bambang.

Bambang menegaskan, selama tidak memenuhi unsur kampanye, termasuk kegiatan reses sebagai anggota DPR RI, kegiatan konsolidasi internal partai semacam itu diperbolehkan  pada masa tenang.

Terpisah, pihak Polres Blitar Kota melalui Kasat Intel, AKP Sonhaji ketika dihubungi mengaku, jika dirinya sedang sakit. Kejadian tersebut akan dicek ke petugas yang di lapangan.

“Saya masih sakit belum masuk kantor dan tidak ikut ke lapangan, tapi ada Pak Bambang (Ketua Bawaslu Kota Blitar). Ini akan saya cek ke petugas yang berada di lapangan,” jelas Sonhaji. (jar)