Peran Apoteker Dalam Mengatasi Resistensi Obat Antibiotik

Ft: M Daffa’ muhamadzdzib karim, 20241041011004, farmasi A.
Ft: M Daffa’ muhamadzdzib karim, 20241041011004, farmasi A.

M Daffa’ muhamadzdzib karim, 20241041011004, farmasi A

MEMOX.CO.ID – Banyaknya kasus resistesi antibiotic sebenarnya tak terlepas dari kesalahan dalam pemkaian antibiotic itu sendiri, baik itu dari dosis yang digunakan, maupun kepatuhan dalam penggunaanya. Direktur jendral pelayanan kesehtana kementrian Kesehatan Azhar jaya menyebutkan bahwa angka kematian akibat resistensi antimikroba terus meningkat, yakni 1,2 juta kematian pada 2019, dan diprediksi pada 2050 meningkat menjadi 10 juta kematian.

“Di Indonesia, ternyata penggunaan antibiotic yang serampangan ini disebabkan beberapa hal. Pertama, masih banyaknya Masyarakat yang bekum tau. Kedua, terlalu mudahnya Masyarakat mendapatkan antibiotic tanpa resep dokter”, kata Azhar, seperti ditulis, kamis (21/11/2024).

Penjualan obat tanpa resep dokter kerap dilakukan di apotek, warung, bahkan took obat berizin, sehingga dia menyoroti perlunya peningkatan pengawasan agar obat-obat an seperti itu tidak dijual tanpa resep dokter.

Isu lainnya, kata Azhar, adalah penggunaan antibiotic dalam pertanian. Para petani atau peternak menggunakan antibiotic untuk menjaga Kesehatan hewan ternak, semisal sapi, ikan, ayam.

Kemudian, lanjutnya, penggunaan anti biotik tersebut berakumulasi dalam tubuh hewan, dan di konsumsi manusia, meningkatkan resistensi terhadap antimikroba. Sebelum melanjutkan, apasih antibiotic dan apa sih resistesnsi itu, antibiotic adalah golongan senyawa antimikroba yang mempunyani efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia pada organisme, khusunya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotic khusunya berkaitan dengan pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi, termasuk bahan antibakteri paling penting.

Kemudian apa itu resistensi, resistensi atau hambatan memiliki arti menunjukkan posisi sebuah sikap untuk berpelilaku bertahan, berusaha, melawan, menentang atau Upaya oposisi pada umumnya sikap ini tidak berdasarkan atau merujuk pada paham yang jelas. Ada beberapa resistensi dapat merujuk pada, resistensi antibiotic (resistensi terhadap antibiotic), resistensi Listrik (pertentangan dari energi Listrik), resistensi organ (kapasitas dari jaringan atau sel yang berusaha menahan dampak polutan, nah itu adalah beberapa contoh dari resisten.

Dan kenapa ada yang dinamakn resistensi antibiotik, resistensi antibiotic adalah kondisi Ketika bakteri, virus, jamur, atau parasite tidak dapat dimatikan oleh antibiotic. Hal ini terjadi karna bakteri mengalami mutase genetic yang membuat antibiotic tidak lagi efektif. Sudah banyak kejadian yang megakibatkan resistensi terhadap antibiotic contohnya sudah saya jelaskan diatas. Dan berikut adalah  beberapa hal yang bisa menyebabkan resistensi terhadap antibotik:

  1. Penggunaan AB yang tidak rasional (peresapan AB tidak sesuai dengan indikasi)
  2. Mudahnya akses terhadap AB
  3. Ketidakpatuhan penggunaan AB
  4. Pengobatan sendiri yang tidak tepat
  5. Kebersihan dan sanitasi yang tidak baik dari fasilitas pelayanan Kesehatan
  6. Penggunaa AB di sektor perternakan sebagai growth promotor yang melebihi batas yang diperoleh.

seterusnya bagaimana dampak yang ditimbulkan resistensi AB, berikut penjelasannya.

Dampak resistesnsi antibiotik.

  1. Gagal terapi standar ancaman bagi paisen karena pandemic resistensi AB memperpanjang lama rawat sehinnga biaya semakin tinggi. Perpanjangan masa sakit dikomunitas, serta penularan mikroba resistensi dikomunitas semakin banyak.
  2. Meningkatnya resiko kematian.
  3. Dibutuhkan terapi denga AB ini 2 yang lebih toksik (dan sering kurang manjur)

Denga banyakmya dampak yang di timbulkan antibiotic membuat pemerintah mengeluarkan permenkes RI No 8 tahun 2015 tentang pembentukan komite pengendalian resistensi antimikroba yang selanjutnya disingkay KPRA, dalam rangka mengendalikan penggunaan antimikroba secara luas baik difasilitasi pelayanan Kesehatan dan Masyarakat.

Progam pengendalian resistensi antibiotic (PPRA) permenkes RI no 8 tahun 2015

PPRA dilakukan di RS dengan ditunjukn 20 RS Pendidikan sebagai pilot project

Tugas PPRA :

  1. Menerapkan kebijakan tentang pengendalian resistensi AB dan penggunaan AB
  2. Menetapkan, memonitor dan evaluasi penggunaan AB
  3. Menyelenggarakan forum diskusi/ kajian pengelolahan penderita penyakit infekis
  4. Menyebarluaskan dan meningkatkan pemahaman
  5. Kesadaran tentang pengendalian resistensi AB terkait dengan penggunaan secara rasional

Dan tentunya juga ada peran apoteker sebgai tim pengendalian resistensi antibiotic karna hal ini memerlukan kolaborasi berbagai profesi Kesehatan, antara lain dokter, ahli mikrobiologi, perawat dan apoteker, tapi dalam kesempatan kali ini kita akan memfokuskan pada apoteker, dan berikut ini adalah

peran apoteker dalam mengatasi resistensi obat antibiotic:

  1. Edukasi pada pasien : salah satu fungsi utama apoteker adalah memberikan edukasi kepada pasien mengenai penggunaan obat yang tepat. Banyak pasien tidak menydari pentingnya menyelesaikan seluruh regimen antibiotic yang diresepkan. Apoteker dapat menjelaskan risiko yang terkait dengan penggunaan antibiotic yang tidak sesui, serta pentingnya kepatuhan dalam pengobatan untuk mencegah berkembangnya resistensi.
  2. Manajemen terapi obat : apoteker memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai interajsi obat, dosis, dan efek samping. Dengan melakukan manajemen terapi ohat yang baik, apoteker dapat membantu dokter dalam meresepkan antibiotic yang tepat dan menghindari penggunaan yang berlebihan atau tidak perlu. Kolaborasi ini sangat penting untuk memastikan bahwa pasien mendapatkan pengobatan yang efektif tanpa meingkatkan risiko resistensi.
  3. Monitorin dan pelaporan : apoteker dapat berperan aktif dalam memantau penggunaan antibiotic di komunitas atau institusi Kesehatan. Dengan mengupulkan data mengenai pola penggunaan obat, apoteker dapat membantu identifikasi tren resistensi dan memberikan inoformasi yang berguna untuk pengembangan kebijkana Kesehatan public. Pelaporan kasus resistensi kepasa otoritas Kesehatan public. Pelaporan kusus resistensi kepada otoritas Kesehatan juga sangat penting untuk pengendalian penyakit.
  4. Promosi penggunaan antibiotic yang rasional: apoteker dapat berkontribusi dalam kampanye promosi penggunaan antibiotic yang rasional. Melalui progam-progam kesadaran Masyarakat, apoteker dapat mendidik Masyarakat tentang dampat negative dari penggunaan antibiotic yang tidak bijaksana, seperti penggunaan untuk infeksi virus Dimana antibiotic tidak efektif.
  5. Penelitian dan inofasi : apoteker juga dapat terlibat dalam penelitian untuk menemukan solusi baru dalam bidang farmasi yang dapat membantu mengatasi resistensi obat.

Kesimpulan

Resistesni obat adalah masalah komleks yang memerlukan pendekatana multu-disiplin. Apoteker, dengan keahlian dan posisi mereka dalm system Kesehatan, memiliki peran penting dalam edukasi, manajemen terapi, monitoring penggunaan obat, dan promosi penggunaan antibiotic yang rasional. Dengan Langkah-langkah proaktif ini, apoteker dapat membantu memerangi resistensi obat dan melindungi Kesehatan Masyarakat secara keseluruhan.