Indeks

Pemkab Jombang Buka Ruang Ekspresi Tanpa Diskriminasi Lewat Jambore Anak

MEMOX.CO.ID – Kabupaten Jombang berkomitmen membuka ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri. Komitmen ini disampaikan dalam acara Jambore Anak Jombang yang menjadi wadah aspirasi dan kreasi mereka. Rabu (3/9/2026).

Wakil Bupati Jombang, M. Salmanudin Yazid, menyatakan bahwa Jambore Anak merupakan agenda tahunan yang difasilitasi Forum Anak Jombang di bawah naungan DPPKBPPPA.

Menurutnya, acara ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan wadah bagi anak-anak untuk belajar, bersosialisasi, menyuarakan pendapat, serta menampilkan potensi dan kreativitas mereka.

“Anak-anak adalah bagian dari pembangunan daerah. Mereka berhak didengar, menyampaikan pendapat, serta turut memberikan gagasan terkait hal-hal yang menyangkut kehidupan dan masa depannya,” ujar Gus Salman.

Demi mewujudkan lingkungan yang ramah anak, Pemkab Jombang mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi. Aspirasi generasi muda dinilai penting untuk didengar dan dijadikan masukan dalam menentukan arah pembangunan daerah.

Ia juga mengingatkan konsep anak sebagai pelopor dan pelapor bentukan Kementerian PPA. Peran pelopor menuntut anak untuk menjadi penggerak sekaligus teladan di masyarakat demi terwujudnya lingkungan yang aman, nyaman, dan sehat.

Adapun dalam peran pelapor, anak-anak diajak untuk aktif dan berani bersuara ketika melihat tindakan kekerasan, diskriminasi, maupun eksploitasi yang merugikan hak-hak sebaya mereka.

Pencegahan pernikahan dini turut menjadi sorotan utama. Pemkab Jombang meminta generasi muda memaksimalkan masa remaja mereka dengan belajar, berkreasi, menjalin pertemanan, dan fokus meraih impian masa depan.

“Jangan pernah mengambil keputusan untuk menikah di usia anak,” pesannya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Dr. Eko Redjo Sunariyanto, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan ruang ekspresi tanpa memandang latar belakang atau kondisi mereka.

Guna menghadirkan ruang yang inklusif, penyelenggaraan Jambore Anak tidak hanya diikuti oleh anak-anak secara umum, tetapi juga melibatkan peserta dari Sekolah Luar Biasa (SLB). Keterlibatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemenuhan hak anak secara setara.

Menurut Eko, menyatukan anak-anak dengan beragam latar belakang dalam satu wadah sangat krusial demi menjamin kesetaraan hak dan ekspresi. Ia menegaskan bahwa agenda ini didorong oleh semangat untuk memberi ruang berkarya sekaligus menjamin akses pendidikan yang berkualitas bagi seluruh anak.

Ia berharap sinergi antara orang tua, pemerintah, dan masyarakat dapat terwujud dalam memberikan ruang ekspresi yang memadai bagi setiap anak, tanpa terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus. Kesadaran ini dipandang vital mengingat peran strategis anak-anak sebagai penentu keberlangsungan masa depan Indonesia.

“Harapannya betul-betul disadari semuanya, orang tua, pemerintah, kemudian masyarakat, bahwa mereka pun harus diberikan tempat ekspresi yang pas. Karena tahun 2045, mereka mungkin ada di antaranya,” harapnya.

Lewat Jambore Anak, pemerintah berharap terbentuk ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak. Hal ini untuk memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan belajar, berkreasi, menyampaikan aspirasi, dan bersiap menjadi pilar pembangunan Indonesia,”. pungkasnya. (kel/fik)

Exit mobile version