Pemkab Bojonegoro Gelar Rembug Stunting, Prevalensi Terus Turun Dalam 5 Tahun Terakhir

Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah hadiri rembug stunting,Jumat (26/5). (foto:ist)

“Jika ini ada, mungkin menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang satu-satunya memberikan insentif pada calon pengantin. Sebab, pemerintah sebagai pengendali anak-anak untuk tidak menikah usia dini dan menjadi pengendali agar Bojonegoro memiliki catatan pernikahan yang baik,” kata Bupati.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Anwar Mukhtadlo menjelaskan, maksud tujuan Rembug Stunting ialah dalam rangka harmonisasi program kegiatan pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung aksi penurunan stunting. Kedua, memperkuat kinerja tim koordinasi percepatan penurunan stunting beserta keterlibatan perangkat daerah lain, dunia usaha, lembaga masyarakat, perguruan tinggi, media serta pemangku kepentingan.

Ketiga, sebagai bahan masukan dalam penyusunan perencanaan pelaksanaan monitoring dan evaluasi program dan kegiatan percepatan penurunan stunting dalam dokumen perencanaan daerah RPJPD, RPD, RKPD, dan RENSTRA perangkat daerah.

Dan keempat, merumuskan, memperkuat kerangka intervensi yang harus dilakukan, mendorong dan menguatkan konvergensi antara Program Pentahelix sebagai bagian dari upaya penurunan stunting di Kabupaten Bojonegoro.

“Isu stunting menjadi isu relevan diangkat mulai tingkat pusat hingga daerah termasuk di Bojonegoro. Isu stunting menjadi salah satu isu strategis pada RPD Kabupaten Bojonegoro 2024-2026 yaitu peningkatan kualitas SDM, pendidikan, kesehatan kemiskinan dan stunting,” ujarnya.

Hal ini membuktikan komitmen Pemkab Bojonegoro dalam rangka mendukung target nasional 14 persen prevalensi stunting pada 2024. Serta sebagai upaya percepatan penurunan stunting melalui berbagai upaya konvergen dan didukung semua pihak.

“Selama 5 tahun dari 2018 sampai 2023, Bojonegoro telah berhasil menurunkan balita stunting sebesar 6,33 atau 5.285 balita. Prevalensi stunting di bojonegoro diukur berdasarkan bulan timbang atau EPPGBM yang menjangkau hampir seluruh balita di desa atau kelurahan. Sehingga hasil yang didapatkan akurat. Data bulan timbang digunakan, dalam rangka intervensi program penurunan stunting dibutuhkan data by name by address,” jelas Tadlo.