Indeks

Pantau Debit Air dan Mitigasi Bencana, Dinas PU Banyuwangi Andalkan Sipecah

Korsda Genteng, H. Mufat saat mengecek stasiun penakar hujan di Dam Setail, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Selasa (8/6/2021) siang.

Banyuwangi, Memox.co.id – Stasiun penakar hujan yang dimiliki Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Kabupaten Banyuwangi, sebagai alat pengukur curah hujan untuk mengetahui tingginya insentitas hujan alat tersebut juga digunakan sebagai alat mitigasi bencana.

Plt Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Guntur Priambodo melalui Sekretaris Dinas (Sekdin), Riza Al Fahrobi mengatakan, di Banyuwangi ada 11 Korsda, dan sudah terpasang 83 stasiun penakar hujan.

Dengan adanya alat tersebut, sangat mudah pelaporannya dengan sistem yang bernama Sistem Informasi Penakar Curah Hujan (Sipecah). Sehingga juru air bisa langsung melaporkan jika curah hujan cukup tinggi dan berapa jumlah debit airnya, sehingga pelaporannya sangat cepat dan akurat.

Baca juga: Banyuwangi Kini Miliki Rumah Sakit Khusus Hewan

“Di Banyuwangi ada 66 juru air, setiap 10 hari sekali juru air akan melaporkan ke Korsda, dan setiap 1 bulan sekali Korsda akan melaporkan ke Dinas PU Pengairan,” kata Riza Al Fahrobi kepada Memo-X, Selasa (8/6/2021) pagi.

Menurut Riza untuk mengetahui seberapa tangkapan air, juru air tinggal melihat alat tersebut. Cara untuk mengetahui tangkapan air, juru air akan melihat tabung. Air yang ada ditabung alat penangkar air ini bisa mengetahui berapa jumlah debit air yang ada.

“Dari tangkapan air yang ada di tabung inilah bisa diketahui insentitas curah hujan, dan setiap hari selalu ada pengukuran,” kata Sekdin PU Pengairan Banyuwangi.

Dengan alat ini kata Riza pihaknya bisa mengetahui berapa jumlah debit air di Dam-dam, apalagi saat musim penghujan. Karena setiap hari Korsda selalu melaporkan tingginya debit air.

“Jika hujan melebihi rata-rata, yang harus ditingkatkan adalah kewaspadaan. Apalagi yang di bagian hulu, bisa-bisa run off, air yang turun tidak bisa diserap oleh tanah, dan masuk ke saluran air, menambah debit air sungai. Dengan alat ini kami bisa melakukan mitigasi, agar tidak terjadi bencana,” jelasnya.

Sangat pentingnya alat tersebut, pihaknya melakukan pengamanan semaksimal mungkin, dan memagar alat tersebut agar tidak dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Contoh jika tabung itu diisi air oleh orang, akan mempengaruhi data pencatat, makanya biar datanya valid ya dipagar, sehingga data yang dihasilkan oleh Si Pecah benar-benar data valid,” tegasnya.

Riza menegaskan, area yang terpasang Sipecah adalah area terlarang, tidak semua orang boleh memasuki kawasan tersebut. Hanya petugas saja yang boleh memasuki kawasan tersebut.

“Karena data yang diambil dari alat itu sangat penting, kaitannya dengan mitigasi. Jika terjadi curah hujan cukup tinggi, diatas normal dibagian bawah sungai bisa berjaga-jaga, untuk mengatasi adanya bencana banjir,” tandasnya.

Bahkan pengguna alat tersebut bukan hanya dinas PU pengairan saja, data data tersebut biasanya menjadi dat pembanding stasiun meteorologi Malang, dan orang-orang yang butuh penelitian data curah hujan.

“Jika insentitas curah hujan hulu tinggi, jadi hilir bisa secepatnya mewaspadai di dam-dam. Dam terbesar di Banyuwangi itu ada di Jarangdoro, Setail, Tegaldlimo, Blambangan, Cemoro Songgon, dan Gembleng,” ujarnya. (ras/mzm)

Exit mobile version