Batu, Memox.co.id -Kelulusan Kota Batu dalam asessment smart city (SC) nasional dinilai belum pantas oleh Malang Corruption Watch (MCW). Karena, acuan dalam asessment yaitu untuk lebih memaksimalkan pemanfaatan teknologi, baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat maupun mengakselerasikan potensi yang ada di masing-masing daerah.
Menurut Koordinator MCW Fachruddin, konsep SC sebenarnya sangat bagus jika diaplikasikan dengan benar dan maksimal. Tetapi hal berbeda ada di Kota Batu, SC yang sudah dianggarkan sekitar Rp 10 Miliar sejauh ini belum dirasakan oleh masyarakat dan petani.
Sejak Februari 2018 SC sudah dijalankan dan terus dilakukan pembenahan dan penambahan belum mewakili tujuan SC di Kota Batu terutama bagi nasib petani dengan cara menghapus mata rantai tengkulak.
” Sebenarnya masih banyak pekerjaan rumah (PR). Misalnya soal konsep linkage dari hasil pertanian petani Kota Batu ke konsumen belum ada, target menghapus rantai tengkulak juga tidak ada hasilnya. Lalu kanal pengaduan masyarakat juga belum terkoneksi dengan pusat serta dinas-dinas. Penilaian kami belum ada kontribusi nyata terhadap masyarakat selama ini,” keluh Fachruddin, (15/5/2019) Rabu Siang.
Dia berharap, pemkot tidak hanya bersolek untuk berlomba mendapatkan penghargaan yang belum sesuai dengan realitas sebenarnya.
“Seharusnya konsentrasi pada pelayanan yang terbaik untuk masyarakat, jangan mengutamakan pada investor. Bisa dicek realita dilapangan, berapa persen masyarakat Kota Batu yang bisa dan memahami SC, banyak mana yang tidak tahu menahu dan tidak faham, cara memfungsikan serta mempergunakannya,” imbuh Fachruddin.
Senada, salah satu pemuda Kota Batu Bayu Prasetya menilai SC tidak efektif karena anggaran yang dibutuhkan sangat besar dan minim manfaat. Rinciannya, 24 April 2018 silam, Kota Batu melaunching 3 aplikasi andalan SC yaitu Among Tani, Among Warga dan Among Kota.
Aplikasi ini sebagai media masyarakat Batu melaporkan keluh kesahnya dan melakukan kritik berkaitan dengan pelayanan publik sesuai dengan fungsi masing-masing aplikasi. Among tani (Pertanian), Among Warga (Pelayanan Publik) dan Among Kota (Informasi wisata, transportasi publik dan sebagainya).
“Melalui aplikasi google play bisa dicek partisispasi masyarakat disemua konten dibawah 50 pengikut. Melalui tabel jumlah pendaftar SC hanya memiliki user dibawah 100,” jelas dia.
FOTO BERSAMA :Walikota Batu Dewanti Rumpoko foto bersama 25 kepala daerah yang ikut dalam penandatanganan nota kesepahaman
Fakta diatas mengkonfirmasi bahwa aplikasi SC masih belum sepenuhnya digunakan oleh masyarakat Kota Batu diakibatkan minimnya sosialisasi. Jumlah pendaftar diatas jika ditotalkan maka baru mencapai 93 orang dari total keseluruhan penduduk kota Batu adalah 202.319 jiwa jumlah perbandingan yang sangat jauh.
Selain itu, efektifitas penggunaan dan bagaimana respon pemkot Batu manakala terdapat persoalan “urgen” yang diadukan masyarakat untuk segera diatasi juga patut dipertanyakan.
” Apakah dengan menyampaikan aduan melalui aplikasi tersebut lalu masalah selesai, atau jangan-jangan aplikasi tersebut hanya bersifat pasif (menunggu aduan) namun dugaannya masih belum ditindaklanjuti,” ungkap Bayu.
Selain itu, yang tidak kalah penting adalah dana yang dianggarkan untuk pengadaan proyek SC tidak sedikit. Pembiayaan Program smart City 2017-2019 mulai pengelolaan peralatan dan pemeliharaan command center TI Smart City yaitu Rp 10,2 miliar, lalu Rp 1,3 miliar dan Rp1,4 miliar.
Kemudian, lengembangan jaringan dan aplikasi teknologi informasi Rp 5 miliar, lalu Rp 410 Juta dan Rp 1,8 miliar. Total biaya yang bersumber dari APBD Kota Batu 2017-2019 mencapai Rp 20,1 miliar.
“Kita harus menggaris bawahi karena anggaran 3 aplikasi ini sangat besar namun minim kebermanfaatannya bagi masyarakat Batu. Oleh sebab itu, Pemkot Batu perlu untuk melakukan evaluasi tata kelola SC dan tak kalah penting bagi masyarakat Batu untuk terlibat aktif melakukan monitoring sekaligus memberikan kritik terhadap kebijakan dan pelayanan publik di Kota Batu,” tutupnya.
Sebelumnya, hari ini, Kota Batu menandatangani nota kesepahaman Program Gerakan Menuju 100 Smart City 2019 di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk, Jakarta. Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko bersama Kadiskominfo Kota Batu M. Agoes Machmoedi menandatangani secara langsung bersama 25 kota lainnya disaksikan oleh Kemendagri RI Tjahjo Kumolo.
Menurut Tjahjo Kumolo ada 4 strategi yang dilaksanakan untuk mencapai pengelolaan Smart City di Indonesia. Karena inti dari gerakan sc adalah membangun seluruh kota dan mempelopori agar bisa menjadi kota cerdas dan kota berprestasi. Kepala daerah harus mengambil resiko, meniru daerah yang berprestasi untuk mengembangkan kota dan kabupaten yang ada.
Dalam Diskusi Panel ‘Gerakan Menuju 100 Smart City’ narasumber berasal dari Direktorat Jenderal Aplikasi dan Informatika (APTIKA) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Samuel Abrijani Pangerapan, Intan Abdams Katoppo, Chief Business Officer Indosat Ooredoo, Director Public Services Industry SAP Indonesia, Willy Anwar dan President Director Lintasarta, Arya Damar. Tujuan diskusi panel tersebut untuk memberikan gambaran ekosistem SC serta pembuatan masterplan SC agar bermanfaat bagi masyarakat. (lih/fik)
