Kisah Keluarga Sumarto, 2 Tahun Tempati Kandang Kambing
Batu, Memo X
Di tengah gemerlapnya Kota Wisata Batu, ternyata masih ada warganya yang masih hidup jauh dari kelayakan. Kondisi menunjukkan ketimpangan masih terjadi di kota wisata ini. Dimana, sebuah keluarga menempati kandang kambing untuk rumah tinggal. Seperti apakah kehidupan pasangan suami istri dengan dua buah hati mereka? …
Sumarto (49) warga Jalan Kopral Kasdi RT 01 RW 01 Dusun Banaran Desa/Kecamatan Bumiaji Kota Batu bersama isteri, Kastiani dengan dua buah hati mereka menempati rumah yang terbilang tidak layak huni. Betapa tidak, rumah yang ditempati merupakan bekas kandang kambing sejak 2 tahun lalu. Kondisi itu masih belum banyak berubah dari model kandang kambing panggung. Rumah itu disekat menjadi tiga bagian, kamar tidur, ruang tamu dan dapur. Ya, setiap malam mereka tidur di satu ruang. Sedang dinding rumah itu ditutupi anyaman bambu yang masih bolong sana sini. Atap terbuat dari genteng lama yang masih bocor saat hujan tiba. Kondisi seperti itu bisa dibayangkan saat mereka melawan dinginnya malam. “Ya, bagaimana lagi? Kondisi ini ya kami syukuri saja. Kami pasrah tetapi tetap berusaha,” kata Sumarto yang menemui Memo X di emperan depan rumahnya, Minggu 7 April 2019. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bapak yang hanya sempat mengenyam pendidikan SD ini bekerja serabutan. Kalau ada orang butuh tukang cangkul kebun dijalani. Demikian juga kalau ada yang ngajak jadi kuli bangunan. “Kemarin diajak nyemprot tanaman apel oleh tetangga,” kata bapak berperawakan kurus ini. Dulu, kata Sumarto, pernah memiliki beberapa ekor kambing. Namun sudah habis untuk kebutuhan rumah tangga termasuk mencicil tanahnya yang senilai Rp 25 juta. Ia juga menceritakan dua anaknya, yang pertama sudah bersekolah di SMPN 4 kelas 9. “Hanya saja, anak saya malu kalau ada temannya mau datang ke rumah. Mungkin minder, ” kata Sumarto yang mengaku saat ini kerja serabutan. Sedangkan anaknya yang masih kecil bersekolah di TK ABA yang ada di kampung tersebut. Pada saat itu terlihat anak kecil itu asyik dengan kakaknya bermain di rumah tinggal berukuran 3 x 3 meter tersebut. Dua tahun menempati rumah seperti itu, Sumarto mengaku pernah didatangi beberapa petugas dari Dinas Sosial untuk didata. Demikian pula dengan pemerintah desa setempat. “Tetapi kedatangan mereka hanya sekedar datang dan mendata saja. Tidak ada tindak lanjutnya, ” kata Sumarto yang kala itu ditemani Amir warga setempat. Ia juga menyebutkan sebidang tanah berukuran sekitar 100 meter persegi yang dikelilingi area perkebunan ini merupakan hibah dari Amir. “Pak Sumarto ini ikut saya sejak kecil. Jadi, saya hibahkan tanah ini untuknya, ” kata Amir, warga setempat. Sang isteri yang keluar dari bilik dapur menimpali soal kedatangan petugas dari pemerintah. “Saat itu kami hanya dijanjikan akan bedah rumah, ” kata Kastiani seraya mengeluarkan minuman untuk tamunya. Sumarto tambahkan, yang terakhir datang adalah anggota dewan Heli Suyanto. “Iya pak Heli datang pas hujan deras. Semoga usai kedatangan pak Heli ada perubahan lebih baik, ” kata Sumarto. Sementara itu, Heli Suyanto ketika dikonfirmasi mengaku pernah datang ke rumah Sumarto. Waktu itu dalam kondisi hujan sehingga tahu dan melihat langsung kondisi yang sebenarnya. “Melihat itu pastinya sangat prihatin. Ini timpang dengan kondisi perkembangan kota wisata ini. Pastinya saya tidak akan tinggal diam, ” kata Heli saat ditemui di kantor DPC Gerindra Kota Batu, Minggu (7/4). Dia lanjutkan, sebagai anggota dewan pastinya mengetahui kondisi anggaran sosial. “Saya sudah menghubungi Dinsos dan saya meminta ada bantuan. Paling tidak bantuan yang bisa membuat rumah keluarga tersebut tidak kebocoran lagi, ” kata Heli yang kini menjadi calon legislatif di Kecamatan Bumiaji. Heli tandaskan akan terus mengawal agar bantuan itu sampai kepada yang berhak. “Pastinya, kami ingin seluruh keluarga di kota ini sejahtera. Dan untuk keluarga Pak Sumarto ini hanya satu kasus saja,” tandasnya. (jun)






