Bondowoso, Memox.co.id – Pelantikan 14 Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) meninggalkan masalah. Informasi suap-menyuap untuk bisa duduk di kursi Kepala OPD semakin merebak kemana-mana. Semula, bisik-bisik tersebut hanya terbatas pada lingkungan tertentu. Tetapi semakin lama, bau busuk itu semakin menyengat. Dan sekarang sudah menjadi rahasia umum. Indikasi jual-beli jabatan ini terlihat dari Medsos Group DPR.
Kalimat-kalimat sindirian suap untuk menjadi Kepala OPD, terdengar oleh publik. Mulai dari plesetan rekening menjadi reken ning hingga nilai suap yang mencapai Rp 300 juta untuk tempat basah.
Menyikapi hal itu, Ketua LSM Lasbira, Erfan Lelor, mengaku sangat kecewa. Karena janji yang dijual saat kampanye dalam Pilbup, tidak ada jual-beli jabatan. Sangat kontradiksi dengan realita saat ini. “Saya juga mendapat informasi jual-beli jabatan tersebut. Tapi sayang. ‘korban’ tidak ada yang berani angkat suara. Seluruh kandidat yang dilantik, diduga menyogok,” keluh Erfan, saat ngobrol dengan Memo X.
Bahkan, lanjut Erfan, temuan timnya dilapangan, ada pejabat, H-2 masih terkabar akan dilantik akan menjadi Kepala OPD tertentu. Tapi saat pelantikan, yang bersangkutan menjadi Kepala OPD lain, dan ini bukan hanya 1 orang, tapi sejumlah pejabat yang menjadi ‘korban’.
Ditambahkan, yang lebih norak lagi, diduga Baperjakat diintervensi oleh oknum Politisi. Pada saat penentuan ahir, malam Jum’at (pelantikan hari Jum’at, red), nama-nama pejabat yang dilantik sudah tersusun rapi.
Tapi, oleh oknum politisi tersebut, nama-nama pejabat yang akan dilantik dirubah. Kehadirannya yang mendadak di ruang rapat Baperjakat dipertanyakan kapasitasnya, tapi tidak bergeming. Pada saat Baperjakat akan minta persetujuan Bupati nama-nama pejabat yang akan dilantik, oknum Politisi tersebut terus membuntuti. “Ternyata Bupati lebih menuruti kemauan oknum politisi tersebut ketimbang hasil keputusan Baperjakat. Saya akan terus berupaya, agar kasus politik ini ditangani secara hukum,” keluh Erfan. (sam/mzm)
